Jakarta, Bimas Islam -- Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerja Sama Zakat Dan Wakaf, Wida Sukmawati beserta tim menggelar monitoring dan evaluasi program Inkubasi Wakaf Produktif pada salah satu penerima bantuan program tahun 2023, yaitu Pondok Pesantren An-Nuriyah Bontocini Batang, Tanah Loe, Gantarangkeke, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Jumat (8/9/2023).
Turut hadir mendampingi, perwakilan dari Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan Yasri, Kepala Kankemenag Kabupaten Jeneponto Saharuddin, dan Penyelenggara Zakat dan Wakaf Jasminih.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat keagamaan memainkan peran penting dalam menggerakkan ekonomi wakaf produktif di seluruh Indonesia. Dengan semangat pemberdayaan ekonomi umat, banyak pesantren telah mengambil langkah proaktif untuk mengembangkan usaha wakaf produktif yang berhasil menciptakan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan memperluas manfaat dari hasil wakaf.
Pesantren An-Nuriyah Bontocini telah memberi contoh nyata bagaimana inisiatif wakaf produktif dapat menjadi sarana yang kuat untuk memberdayakan komunitas lokal dan mendukung ekonomi umat.
Dalam arahannya, Wida mengatakan, sampai tahun 2023 ini, terdapat 47 titik lokasi yang diberikan bantuan Inkubasi Wakaf Produktif, salah satunya Pondok Pesantren An-Nuriyah. "Saya beserta tim datang ke yayasan untuk melakukan monitoring dan evaluasi, dan ingin melihat sejauh mana progres pengembangan dari bantuan yang sudah diberikan," ucap Wida.
Wida mengungkapkan, bantuan yang diterima telah dimanfaatkan oleh nazir untuk membeli alat-alat perlengkapan membuat roti seperti oven, mixer, meja display, copy maker, dan lemari roti.
“Bantuan ini bersifat stimulus, kami memberi bantuan kepada nazir yayasan yang sudah memiliki usaha dan ingin lebih mengembangkan usahanya. Bahkan kami telah memberi pelatihan kepada nazir di bulan Agustus ini, dan memberi akses pendanaan lain," ujarnya.
Sementara itu, nazir yayasan, Khairul mengatakan, saat ini terdapat sebanyak 300 santri putra dan putri di pondok pesantren. "Kami berusaha agar pondok pesantren ini bisa mandiri dan dapat memberdayakan ekonomi umat," tuturnya.
Ia melanjutkan, roti yang diproduksi setiap hari adalah seberat 3 kg, dan menghasilkan 150 hingga 200 roti dengan enam varian rasa.
"Kami titip ke koperasi pesantren dengan harga Rp6.000 per buah. Kami berdayakan para santri untuk memproduksi rotinya. Ini sebagai pengembangan skill bagi santri, semoga kelak berguna untuk mereka," harap Khairul.
Ia melanjutkan, ke depan, pihaknya akan mempekerjakan tenaga profesional, mengingat target pasar yang ditentukan tidak hanya kalangan santri, tetapi juga masyarakat luas.
"Dari hasil penjualan, kami bisa menggratiskan kepada 20 orang santri tidak mampu. Ke depan, jika usaha ini lebih maju, kami ingin menggratiskan seluruh santri yang ada di pesantren," tegas Khairul.
Kakankemenag Jeneponto Saharuddin mengatakan, usaha yang dilakukan tersebut dapat meningkatkan kemandirian pesantren.
"Jika seluruh pesantren memiliki usaha seperti ini, saya yakin wakaf produktif akan semakin berkembang dan pesantren akan lebih mandiri," tandasnya.
Andayani/Mr



