Fitrop mengaku kagum dengan pemanfaatan teknologi digital dalam metode wakaf. "Saya sangat kagum dengan bagaimana teknologi telah mempermudah seseorang dalam berwakaf," ungkapnya kepada wartawan.
Ia juga menyatakan keterkejutannya atas kemudahan metode wakaf uang. Fitrop berpendapat, inovasi tersebut mengubah persepsi masyarakat terkait wakaf yang sebelumnya selalu diidentikkan dengan tanah, menjadi lebih fleksibel dengan uang tunai.
"Menurut aku hebat banget. Inovasi wakaf sudah sangat memudahkan dalam digitalisasinya. Buat aku pribadi dan yang awam tentang wakaf, mungkin mikirnya wakaf tanah, padahal dengan uang sedikit saja juga bisa jadi wakaf," ujar Fitrop.
Wakaf, tambah dia, bisa dijadikan investasi akhirat, mirip dengan investasi kekayaan untuk mendapat passive income. "Kalau orang berinvestasi ketika hidup bisa jadi passive income, setelah tidak hidup kita bisa berinvestasi untuk mendapatkan passive pahala," ungkap Fitrop.
Acara Devtalx: Filantropi Islam yang dipandu oleh Fitrop sendiri menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghafur; Wakil Komisaris Bank Syariah Indonesia, Adiwarman Karim; perwakilan Gerakan Wakaf Indonesia, Susi Susiati; dan pengusaha inspirasional dalam berwakaf, Siti Aisyah.
Fn/Mr
*Fotografer: Budi



