Memperingati momentum bersejarah itu, Kemenag menggelar sejumlah rangkaian acara, salah satunya kegiatan bakti sosial di Masjid Jami' Matraman, Jakarta Pusat, Rabu (3/1/2024).
Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Agama, Saiful Rahmat Dasuki menyebut bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap kemakmuran masjid.
"Dalam tasyakuran hari jadi Kementerian Agama ke-78, kami hadir di Masjid Jami' Matraman untuk merayakan dan memerhatikan kemakmuran masjid," jelas Wamenag.
Menurut Wamenag, Masjid Jami' Matraman merupakan salah satu masjid yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia. "Masjid ini bersejarah, menjadi saksi pergerakan dan mengantarkan kemerdekaan bangsa kita," tambahnya.
Profil dan Sejarah Singkat Masjid Jami’ Matraman
Masjid Jami’ Matraman merupakan salah satu masjid yang menyimpan sejarah panjang berdirinya Republik Indonesia. Masjid ini didirikan oleh H. Mursalun dan Bustanil Arifin keturunan kerajaan Mataram pada tahun 1837 Masehi. Masjid yang terletak di tepi Jalan Matraman No.2, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat itu berjarak sekitar 300 meter dari Tugu Proklamasi tempat dilaksanakannya pembacaan teks proklamasi, serta pengibaran bendera Merah Putih untuk pertama kalinya secara resmi setelah Indonesia merdeka.
Masjid ini juga sangat melekat dengan perjuangan Kerajaan Mataram saat merebut Batavia (Jakarta) dari Belanda. Masjid Jami Matraman ini aslinya bernama Masjid Jami Matraman Dalem yang artinya ‘masjid jami para abdi dalem’ atau para pengikut setia Kasultanan Mataram Ngayogyakarta.
Pada tahun 1628-1629 Sultan Agung Hanyokrokusumo alias Syekh Kuro memimpin ratusan prajurit untuk melawan Belanda. Sehingga nama masjid ini juga memiliki keterkaitan dengan para abdi dalem Kesultanan Mataram Yogyakarta. Setelah itu, Sultan Agung kembali ke Yogyakarta, tetapi sebagian prajuritnya yang juga seorang pendakwah memilih tetap tinggal dan berdakwah di Batavia (Jakarta).
Pada saat itu, Bung Karno dan Bung Hatta sering melaksanakan salat di masjid ini, bahkan jenazah Bung Hatta sempat disemayamkan di Masjid Jami’ Matraman. Hingga saat ini Masjid Jami’ Matraman masih sering dikunjungi jemaah dari seluruh Indonesia, baik dari kalangan ulama maupun petinggi pemerintah dan pengusaha.
Bangunan Masjid
Luas bangunan masjid yang berdiri di luas tanah 2.050 m² dengan daya tampung sekitar 1.000 jemaah ini tampak seperti benteng, dengan kubah besar di bagian atap. Di sisi kiri dan kanan terdapat dua buah menara dengan kubah di bagian puncak, dan pagar keliling pada badan menara. Menara masjid dahulu diberi warna kuning sebagai perlambang keagungan Islam, serta memberi kesan berani dari para pendirinya yang berjuang melawan pemerintah Belanda masa itu.
Serambi masjid diperkuat dengan pilar-pilar yang satu sama lain dihubungkan dengan profil lengkung. Interior ruang salat utama tidak terlalu banyak diberi hiasan kaligrafi, hanya bagian atas ruang mihrab yang dipenuhi kaligrafi. Di bagian tengah terdapat pilar-pilar penyangga atap, jendela pada dinding masjid yang banyak menggunakan kaca-kaca patri bermotif tanaman dalam paduan warna hijau, kuning, dan merah. Kaca-kaca jendela selain berfungsi estetika juga untuk penerangan dan sirkulasi udara.
Bentuk bangunannya terinspirasi dari arsitektur Masjidil Haram di Mekah dan Taj Mahal di India ini tampak luas, lengang dan hening. Di masjid ini juga masih ada kalender terbuat dari kayu bertuliskan huruf Arab dan angka latin. Kalender ini biasa digunakan oleh orang-orang Mataram pada zaman dahulu untuk mengetahui hari, hingga saat ini masih digunakan sebagai ciri khas dari Masjid Jami’ Matraman.
Di depan masjid terdapat dua makam milik tentara Mataram. Konon, kedua makam itu adalah Wanandari dan Wandansari, meski masih belum jelas apakah kedua makam memang sudah ada di sana sebelum masjid dibangun atau setelahnya, tak jarang jemaah ziarah ke makam tersebut.
An/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



