Bukittinggi, Bimas Islam — Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh bimbingan keagamaan. Bimbingan tersebut perlu diberikan kepada semua warga negara tanpa diskriminasi dan membeda-bedakan status sosial. Bimbingan agama perlu diberikan pada penduduk kota atau desa, miskin atau kaya, masyarakat pada umumnya, hingga masyarakat dengan kebutuhan khusus.
Hal tersebut nampaknya menjadi prinsip Rusman Edi, seorang Penyuluh Agama Islam (PAI) yang bertugas di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah sebelumnya ia melakukan penyuluhan bagi sejumlah kelompok binaan disabilitas dan lansia, awal tahun ini ia melebarkan sayap dengan membina kelompok anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) al-Ikhlas, Garegeh, Bukittinggi.
Awalnya, Rusman mengaku ragu saat lembaga pendidikan tersebut memintanya memberikan pembinaan kepada murid-murid berkebutuhan khusus, namun setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan pengalaman yang menarik.
"Secara umum, orang mengira anak autis punya daya serap yang lemah saat belajar. Rupanya mereka justru terlihat antusias menerima materi keagamaan yang kami berikan,” katanya.
Dikatakan Rusman, pada awal tahun 2020 ini materi yang ia sampaikan adalah seni membaca al-Qur’an. “Boleh jadi ada yang menyangka mereka tidak akan mampu belajar seperti anak-anak yang lain. Ternyata fakta membuktikan sebaliknya, mereka tak sekadar mampu, bahkan melebihi yang lain,” ujar Rusman.
Rusman tak berlebihan, pada umumnya untuk menguasai satu lagu seni membaca al-Qur'an yang disebut Bayati misalnya, dibutuhkan lima hingga enam kali pertemuan. Namun murid berkebutuhan khusus yang ia bina, sudah mampu menguasai lagu tersebut hanya dalam satu kali pertemuan.
“Berarti sampai pertemuan hari ketiga ini, mereka sudah mampu menguasai tiga dasar lagu,” katanya.
Dari pengalaman itu, penyuluh yang berlatar belakang Qari (pembaca al-Qur’an-red) ini menyimpulkan daya serap murid berkebutuhan khusus yang ia bina mampu menyaingi daya serap murid lain pada umumnya di bidang seni membaca al-Qur’an.
Rusman menambakan, kelompok binaannya punya potensi untuk menjadi Qari Tilawah Autis. Hal tersebut juga dibenarkan sejumlah pengajar di SLB Al-Ikhlas. “Murid-murid dalam kelas bimbingan penyuluh ini memang pintar,” ujarnya banga.
Rusman berharap, ke depan kelompok berkebutuhan khusus mendapat perhatian lebih dari pemerintah. “Kami mengamati bahwa banyak mutiara yang tersimpan dalam kelompok berkebutuhan khusus ini,” pungkasnya.
(ska/mvl/RE/Sy)



