Jakarta, Bimas Islam -- Direktorat Penerangan Agama Islam, Kementerian Agama berkomitmen memperkuat pembelajaran Al-Quran di masyarakat melalui berbagai kebijakan dan program strategis.
Demikian disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ahmad Zayadi, menyusul dirilisnya Survei Nasional "Potensi Literasi Al-Quran Masyarakat Indonesia”. Survei ini mengambil sampel sebanyak 10.347 responden, sedangkan skor Indeks Literasi Al-Quran di tahun 2023 mencapai angka 66,038 (kategori tinggi).
Menyikapi hasil survei tersebut, Zayadi mengatakan, Kementerian Agama telah berupaya maksimal untuk memberi layanan keagamaan di masyarakat khususnya dalam bidang pembelajaran Al-Qur’an.
“Untuk meningkatkan indeks literasi Al-Quran, kami akan terus mengoptimalkan program pembelajaran Al-Quran melalui peran para aktor bidang layanan keagamaan seperti Penyuluh Agama, Majelis Taklim, Ormas Keislaman, dai/daiyah, dan LPTQ,” kata Zayadi di Jakarta, Rabu (11/10/2023).
Ia juga mendorong masyarakat agar dapat mengikuti majelis pembelajaran Al-Quran yang berada di desa/kelurahan atau di sekitar tempat tinggal masing-masing dalam meningkatkan kemampuan Baca dan Tulis Al-Quran (BTQ).
"Zaman sekarang, materi pembelajaran Al-Quran juga bisa diperoleh dari media sosial, karena sudah terbukti signifikan berdampak terhadap peningkatan kompetensi BTQ," jelasnya.
Zayadi menilai, salah satu kunci membaca Al Qur’an dengan lancar yakni mempelajari kaidah-kaidah tajwid dasar yang berfungsi untuk mengindari kesalahan ketika membaca Kitab Suci tersebut.
“Selain itu, penting juga peningkatan kuantitas dan kualitas dari pengajar, ketersediaan majelis pembelajaran Al-Quran, peningkatan frekuensi dan kualitas program literasi BTQ melalui kegiatan bersama dengan pemerintah daerah,” ujar Zayadi yang juga sebagai Sekretaris LPTQ Nasional.
Pihaknya mengimbau agar LPTQ di seluruh jenjang mulai kecamatan hingga provinsi di Indonesia membuat program peningkatan literasi Al-Quran yang dampaknya dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Mari seluruh jajaran LPTQ di Indonesia agar menguatkan perannya dalam membimbing masyarakat di daerah masing-masing untuk meningkatkan kemampuan baca dan tulis Al-Quran,” ajak Zayadi.
Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Alquran dan Alhadits Rijal Ahmad Rangkuty, mengungkapkan, hasil survei tersebut menjadi bahan evaluasi bersama untuk penguatan dan inovasi program di bidang literasi dan pembelajaran Al-Quran di masyarakat.
Ia juga berharap, kalangan masyarakat muslim agar membangun kesadaran bersama demi membumikan ajaran Al-Quran melalui rajin membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Mengamalkan Al-Qur’an tidak hanya melalui tafsir tunggal, melainkan juga beragam tafsir dari ulama yang berkompeten,” harap Rijal.
Dari skor Indeks Literasi Al-Quran sebesar 66,038, ditemukan bahwa responden mengenali huruf dan harakat Al-Quran (61,51%), mampu membaca susunan huruf menjadi kata (59,92%), mampu membaca ayat dengan lancar (48,96%), dan membaca Al Qur’an dengan lancar, sesuai tajwid (44,57%), sehingga didapati responden yang belum memiliki literasi baca Al-Quran sebesar 38,49%.
Survei ini juga menemukan bahwa ada sebanyak 11,3% responden yang tidak tersedia Mushaf Al-Quran di rumahnya. Peran Penyuluh Agama berdampak dengan skor 78,2 bagi masyarakat yang mengikuti Program Penyuluhan Literasi Al-Quran.
Ditemukan juga data bahwa sebanyak 22,2% responden mengaku tidak ada majelis pembelajaran BTQ di tempat tinggalnya. Jika pun ada, sebesar 59,36% responden tidak pernah mengikuti majelis pembelajaran BTQ di tempat tinggalnya.
Editor: Mr



