Solo, Bimas Islam -- Direktorat Bina Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah, Kementerian Agama (Kemenag) mulai mengimplementasikan pelibatan masyarakat dalam program keluarga sakinah. Hal itu ditandai dengan digelarnya rapat koordinasi bersama Satuan Tugas Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (Satgas GKMNU), Selasa (29/8/2023) di Solo.
Kepala Subdit Bina Keluarga Sakinah, Agus Suryo Suripto mengatakan, Kemenag tengah bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam program Ketahanan Keluarga.
Program tersebut, katanya, dicanangkan untuk mewujudkan upaya menekan tingginya angka perceraian. Sebab, menurut Suryo, angka perceraian yang tinggi mencerminkan rendahnya ketahanan keluarga.
"Itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Rapat Koordinasi Pelibatan Masyarakat pada Program Ketahanan Keluarga hari ini," jelas Suryo yang pada kesempatan itu mewakili Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Zainal Mustamin.
Dia menambahkan, Kemenag mendapat beban penanganan stunting yang harus dituntaskan melalui tercapainya target 80 persen pelaksanaan Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin (Bimwin Catin).
Meski demikian, menurut Suryo, terdapat problem yang jauh lebih besar dari stunting itu sendiri, yakni tingginya angka perceraian, jumlah perkawinan anak yang tinggi, dan banyaknya persoalan keluarga seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Eks Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banjarnegara ini menyayangkan banyaknya persoalan keluarga yang tidak diimbangi dengan sosialisasi dan publikasi tentang profiling keluarga yang ideal.
“Profil keluarga ideal, tidak ada satu pun yang menggagas ide tersebut. Ide profiling Keluarga Ideal justru datang dari Gus Menteri yang juga merupakan Ketua Umum GKMNU. Makanya, mandatori untuk membentuk keluarga yang berkualitas menjadi tugas Kemenag,” imbuhnya.
Terkait dengan anggaran, Suryo berpesan kepada Kemenag Kabupaten/Kota untuk tidak merevisi anggaran yang berhubungan dengan kegiatan Pelibatan Masyarakat pada Program Ketahanan Keluarga. Sebab, katanya, keberhasilan pelaksanaan program tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit.
"Untuk itu, sangat diperlukan pernyataan komitmen dari seluruh peserta yang hadir hari ini sebagai dasar untuk menyiapkan (refoccusing) anggaran. Penguatan keluarga maslahat; merawat jagat, dan membangun peradaban melalui keluarga maslahat," tegas Suryo.
Sementara itu, Konsultan Program Keluarga Sakinah Kemenag, Alissa Qathrunnada Munawwarah Wahid yang hadir menjadi narasumber pada kegiatan tersebut memaparkan adanya program pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan bina keluarga sakinah.
Menurutnya, awal mula Satgas GKMNU mengikuti nomenklatur dari NU. Kemudian, seiring dengan berjalannya proses pelaksanaan program, harus menyesuaikan nomenklatur pemerintah karena berhubungan dengan pelaksanaan (kordinasi, keselarasan dan teknis) di lapangan.
"Basis konstruksi keluarga sakinah yaitu keluarga yang bahagia lahir dan batin. Itu identik dengan cerminan keluarga yang sejahtera," terang perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid ini.
Lebih jauh Alissa menjelaskan, signature program dari Kemenag yakni adanya kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Bimbingan Perkawinan Pra Nikah Calon Pengantin, Belajar Rahasia Nikah, dan Bimbingan Perkawinan Remaja (Bimwin untuk pasangan yang menikah dengan persiapan yang kurang matang dan kategori usia remaja).
"Saat ini oleh Bappenas, Bimbingan Perkawinan Pra Nikah Calon Pengantin sudah diakui merupakan salah satu program unggulan yang dianggap berhasil dalam mewujudkan keluarga berkualitas, keluarga bahagia dan sejahtera," ungkap Alissa.
Rapat koordinasi yang dipandu oleh pengurus Satgas GKMNU Pusat, Fahmi Akbar Idris itu juga dihadiri oleh Kasi Bimas Islam dan Ketua GKMNU se Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.*
Ikq/Mr



