Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur mendorong kepemimpinan anak muda dan perempuan dalam pengelolaan zakat dan wakaf di Indonesia. Hal itu, imbuhnya, dapat mempercepat transformasi lembaga zakat dan wakaf di tengah perkembangan teknologi informasi.
Demikian disampaikan Waryono dalam forum Literasi Filantropi Vol. 13 Kepemimpinan Gerakan Zakat di Indonesia yang digagas Akademi Manajemen Zakat dan Filantropi Islam (AKADEMIZI) melalui Zoom Meeting, Rabu (11/10/2023).
"Sudah saatnya anak muda kreatif dan memiliki budaya kerja yang cepat serta melek teknologi dipertimbangkan dalam kepemimpinan lembaga pengelola zakat. Meski demikian, mereka masih perlu berkolaborasi dengan kelompok tua," ujarnya.
Menurut Waryono, anak muda dapat menciptakan budaya kerja yang cocok di era digital. "Pengumpulan sekaligus pendistribusian dana zakat dan wakaf sudah menggunakan teknologi seperti e-ZISWAF. Hal ini perlu dioptimalkan dengan kepemimpinan anak muda," imbuhnya.
Di era teknologi, terang Waryono, pengelolaan zakat dan wakaf harus ramah teknologi. Amil, nazir, dan pengelola lainnya harus bisa mengimbangi semangat digital. "Tentu, ini wilayah kepemimpinan anak muda," ujarnya.
Selain kalangan anak muda, Waryono juga mendorong kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan lembaga zakat dan wakaf di Indonesia. Menurutnya, pengelolaan zakat juga harus memerhatikan kesejahteraan perempuan, peningkatan kualitas pendidikan perempuan, serta penanganan stunting bagi calon ibu hamil dan menyusui.
"Kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan zakat ini penting, karena aspek dalam zakat itu ada feminisnya, seperti prioritas distribusi untuk perempuan dan ibu hamil dari kalangan tidak mampu," ujarnya.
Ba/Mr



