Jakarta, Bimas Islam – Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mendorong penyuluh agama untuk memanfaatkan platform digital dalam mengampanyekan pentingnya berwakaf. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan bertajuk “Videology” di Bandung, Rabu (29/5/2024).
“Mengingat potensi wakaf sangat besar, penyuluh agama harus mengambil peran untuk mengampanyekan pentingnya berwakaf melalui akun-akun Medsos para penyuluh,” ujarnya.
Ia pun berbagi pengalamannya berkunjung dan belajar dari 10 perguruan tinggi terbaik di Amerika Serikat. Dikatakannya, perguruan tinggi seperti Harvard University menggunakan konsep wakaf dalam menjamin mutu penelitian dan pendidikan.
“Saya pernah berkunjung di 10 perguruan tinggi terbaik di Amerika, termasuk Harvard University. Ternyata, perguruan tinggi tersebut telah menggunakan konsep wakaf, meskipun namanya berbeda, untuk menjamin kualitas penelitian pendidikan,” tuturnya.
Ia melanjutkan, anggaran pendidikan Harvard University hampir setara dengan anggaran pendidikan skala nasional di Indonesia. “Mereka punya anggaran pendidikan sangat besar, bahkan hampir setara dengan anggaran pendidikan di Indonesia, karena mereka telah menerapkan konsep wakaf,” sambungnya.
Terkait itu, Kamaruddin mendorong penyuluh agama untuk menjadi aktor kunci yang memperkenalkan wakaf sebagai life style, dengan membuat konten audiovisual yang menyasar semua kalangan.
“Jika ada orang bersemangat berwakaf karena konten anda (penyuluh agama), maka anda berkontribusi besar terhadap dunia perwakafan di Indonesia,” pungkas Kamaruddin.
Berdasarkan data dari Badan Wakaf Indonesia (BWI), potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp180 triliun per tahun. Namun, potensi tersebut masih belum terserap maksimal. Saat ini, akumulasi nilai wakaf baru mencapai sekitar Rp2,23 triliun, yang berarti kurang dari 2 persen dari potensi sebesar Rp180 triliun.
Wcp/Mr



