Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin, mengapresiasi sinergi antara Kemenag dan media dalam memperkuat Moderasi Beragama. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk meningkatkan informasi keagamaan.
“Tradisi ceramah yang umum terjadi setiap Ramadan di Indonesia mencerminkan semangat masyarakat terhadap informasi keagamaan di media massa,” ujar Dirjen dalam kegiatan Temu Penanggungjawab Program Siaran Keagamaan Islam bertajuk ‘Media dan Kerukunan Umat Beragama’ di Jakarta, Jumat (15/3/2024).
Dirjen menegaskan pentingnya kerja sama untuk memberi informasi keagamaan demi mencerdaskan umat. Karenanya, ia berharap, pertemuan dengan awak media dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dalam menyiarkan pesan-pesan keagamaan yang moderat.
“Menyadari pentingnya media dalam memberi tuntunan, kami berharap pertemuan ini membawa dampak positif bagi masyarakat dalam mengakses informasi keagamaan di media massa,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi menyoroti pentingnya keberadaan penceramah yang kompeten dan berotoritas sesuai dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 09 Tahun 2023.
“Ke depan, saat proses penyiaran di media, kita harus memastikan dua hal, pertama konten ceramah harus menyejukkan dan moderat, dan penceramahnya harus berkompeten serta punya otoritas,” ucapnya.
Zayadi juga menegaskan pentingnya Perpres 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. “Karenanya, kami mengajak teman-teman media untuk bersama-sama memastikan siaran keagamaan dapat membawa pesan yang mendidik, mencerahkan, dan memberi nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan Temu Penanggungjawab Program Siaran Keagamaan Islam dihadiri 60 peserta, mewakili sejumlah media massa seperti TVRI, Metro TV, TV One, Trans TV, Trans 7, iNews TV, RCTI, SCTV, Indosiar, Kompas TV, Net TV, CNN Indonesia, MNC TV, ANTV, TV MU, RRI, Radio Elshinta, TV NU, Aswaja TV, GTV, dan Radio Sonora.
Wcp/Mr



