Tangerang, Bimas Islam --- Sebanyak 90 orang penghulu di Provinsi Banten menerima bimbingan teknis layanan prima penghulu. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) tersebut berlangsung sebanyak tiga angkatan selama tiga hari untuk masing-masing angkatan.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Muharam Marzuki mengatakan, kegiatan bimbingan teknis layanan prima bagi penghulu dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas dan integritas penghulu dalam melayani masyarakat.
"Sebagai ujung tombak Kemenag yang berhadapan langsung dengan masyarakat, penghulu harus memiliki wawasan pelayanan prima yang baik," kata Muharam pada saat membuka acara tersebut, Rabu (16/9) di Hotel Golden Tulip Esensial, Tangerang.
Dia menjelaskan, pelayanan prima di KUA termasuk yang dinilai oleh Ombudsman RI setiap tahun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Layanan Publik.
Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Sekretariat Jenderal Kemenag ini menyebutkan, terdapat 30 macam yang diperiksa oleh Ombudsman sebagai aspek layanan prima di lembaga publik, seperti ketercukupan SDM, ada tidaknya SOP, penempatan SOP, keramahan petugas, ruang tunggu, ruang laktasi, tempat parkir kendaraan, sampai pada toilet.
"Itu kesannya hal yang kecil-kecil tapi sangat menentukan baik atau tidak pelayanan kita kepada masyarakat," ujarnya.
Muharam menekankan pentingnya kebersihan kantor dan lingkungannya. Dia mengaku kaget ketika belajar di Kanada dan Australia, memperoleh pelajaran tentang kebersihan dan perubahan prilaku dari seorang dosen yang non muslim, dimana yang diajarkan tersebut sebenarnya merupakan esensi dari ajaran Islam yang sudah ia pelajari sewaktu di madrasah.
"Itu kan sebenarnya sudah diajarkan dalam Islam," kata Muharam yang menuntaskan pendidikan tingkat doktoral di India ini.
Mantan Kapuslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Balitbangdiklat Kemenag ini juga meminta para penghulu meningkatkan integritas dalam melaksanakan tugas. Dia menyebut ada lima hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pelayanan prima, yaitu tepat waktu, tepat biaya, tepat sasaran, tepat ukuran, dan tepat kualitas.
Muharam mengakui pelayanan publik di sejumlah KUA masih kurang responsif, kurang informatif, kurang accessible, kurang koordinasi, sangat birokratis, kurang mau mendengar keluhan, saran, aspirasi masyarakat, dan inefisiensi.
"Ke depan saya berharap pelayanan publik di KUA dari waktu ke waktu semakin membaik. Khusus di Banten ini, jangan ada saya dengar berita yang jelek tentang KUA," tegasnya.
Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Provinsi Banten, Ade Bajuri yang hadir pada pembukaan kegiatan tersebut mengaku pihaknya telah berkomitmen agar seluruh KUA di Provinsi Banten bermartabat di mata masyarakat.
Hal itu sudah diawali dengan adanya aplikasi KUA KEREN dan BERMARTABAT yang diluncurkan oleh Menteri Agama Fachrul Razi sebulan yang lalu. "Keren itu merupakan singkatan dari komunikatif, energik, responsif, edukatif, dan normatif," imbuh Bajuri.
Kegiatan bimbingan teknis layanan prima penghulu tersebut menghadirkan dua orang motivator muda dari Jakarta, yaitu Afif Ar Rahman (Direktur AFA Grup Internasional dan penulis buku Be a Winner in Life) dan Hafidz Andrian (Trainer pada AFA Training Center dan Penulis buku Surga Sebelum Surga).
(Insan Khoirul Qolbi)



