Jakarta, Bimas Islam -- Kemarau panjang dan polusi udara melanda sejumlah wilayah Indonesia, khususnya perkotaan. Dampak peristiwa tersebut menimbulkan kekeringan.
Menyikapi hal itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Kamaruddin Amin mengimbau masyarakat untuk melaksanakan salat Istisqa (salat meminta hujan).
"Sejumlah wilayah Indonesia, khususnya daerah perkotaan dilanda kemarau panjang dan polusi udara hingga berakibat kekeringan. Karenanya, kami mengimbau masyarakat untuk melaksanakan salat Istisqa," ungkap Dirjen dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (14/9/2023).
Dalam edaran itu, Kamaruddin menjelaskan tata cara salat Istisqa. Menurutnya, pelaksanaan salat Istisqa hampir sama dengan salat Idulfitri/Iduladha.
"Pelaksanaan salat Istisqa hampir sama dengan salat Idulfitri/Iduladha yang sesudah takbiratulihram, dilanjutkan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, lima kali takbir pada rakaat kedua, lalu rukuk, sujud, hingga duduk tahiyat, dan diakhiri dengan salam,” paparnya.
Selanjutnya, imbuh Dirjen, khatib berkhotbah dan didengar dengan khidmat oleh masyarakat.
"Khatib menyampaikan materi khotbahnya sama seperti khotbah salat Idulfitri/Iduladha," imbuhnya.
Dirjen menegaskan, materi khotbah yang disampaikan khatib berisi ajakan untuk bertaubat dan memperbanyak beristigfar.
"Khatib dianjurkan untuk menyampaikan materi khotbah yang berisi ajakan untuk bertaubat dan beristigfar,” tegasnya.
Melalui pelaksanaan salat Istisqa, menurutnya, Allah Swt akan mengabulkan permintaan agar hujan turun menghilangkan kekeringan dan polusi udara.
"Allah Swt akan mengabulkan permintaan manusia saat situasi kemarau sedang melanda,” pungkas Dirjen.
Ba/Wcp
*fotografer: Lutfhi
*fotografer: Lutfhi



