Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) melibatkan 50 penyuluh agama dan penghulu dari wilayah Sumatra untuk mengikuti bimbingan teknis Sekolah Penyuluh dan Penghulu Aktor Resolusi Konflik (SPARK) 2024. Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Kemenag, Adib mengatakan, langkah ini merupakan salah satu upaya penting untuk mencegah konflik sosial berdimensi keagamaan di tengah masyarakat.
“(SPARK digelar) agar lebih banyak lagi aktor resolusi konflik untuk menciptakan harmoni di tengah masyarakat. Langkah-langkah resolusi konflik ini juga selaras dengan Surah An-Nisa ayat 114 yang menekankan pentingnya upaya untuk mendamaikan atau mewujudkan kedamaian dan mencegah konflik,” demikian diungkapkan Adib dalam gelaran SPARK di Jakarta, Senin (10/6/2024).
Pencegahan konflik, lanjut Adib, membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten sebagai agen pelaksana. Dikatakannya, peran penyuluh agama dan penghulu sangat strategis dalam memberi pelayanan di tengah masyarakat.
“Sistem peringatan dini konflik keagamaan tidak akan berjalan tanpa ada yang menjalankannya. Penyuluh agama dan penghulu menjadi agen kunci yang berada di garis depan dan menjadi ujung tombak layanan Kemenag di masyarakat dan tahu persis bagaimana denyut nadi keadaan umat,” terangnya.
Kendati, Adib menyoroti penanganan konflik yang belum mengedepankan pencegahan. Karenanya, diperlukan dua langkah konkret dalam penanganan konflik sosial berdimensi agama.
“Pertama, menumbuhkan harmoni melalui Moderasi Beragama dan kedua dengan mitigasi serta pencegahan dan penanganan konflik. Dua langkah tersebut jika diibaratkan seperti merawat pohon, yang tidak cukup hanya diberi pupuk tetapi juga harus diantisipasi dari hama. Karenanya, dengan Moderasi Beragama, kita membangun harmoni di masyarakat. Dan melalui pencegahan konflik, kita menjaga umat dan masyarakat dari hama dan gangguan yang akan merusak kedamaian dan persatuan,” ulasnya.
Adib mengajak peserta untuk aktif berperan dalam pencegahan konflik sosial berdimensi keagamaan, demi terciptanya kesalehan individu dan kesalehan sosial di masyarakat.
Sementara itu, Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam, Dedi Slamet Riyadi menambahkan, SPARK 2024 di Jakarta merupakan angkatan ketiga. Di tahun 2022 dan 2023 SPARK hanya digelar satu angkatan. Sementara di tahun 2024, Direktorat Urais Binsyar menggelar 5 angkatan untuk lima zona wilayah yang berbeda. “Ini adalah angkatan pertama di tahun 2024 yang diiikuti oleh 50 orang peserta dari wilayah Sumatra. Para peserta itu terpilih dari 159 pendaftar di wilayah Sumatra,” paparnya.
Dedi menyampaikan, selama pelatihan, para penyuluh dan penghulu akan dibekali dengan berbagai materi, termasuk teknik fasilitasi, mediasi, negosiasi, komunikasi, pengumpulan data, dan juga negosiasi dari para fasilitator. Modul SPARK, imbuhnya, juga terus diperbarui dan diperbaiki agar relevan dengan perkembangan zaman, menjadikannya panduan bagi para penyuluh dan penghulu dalam menangani serta mencegah konflik sosial berdimensi agama di masyarakat.
“Peran penyuluh agama dan penghulu sebagai aktor resolusi konflik telah memiliki payung hukum yang jelas yaitu merujuk pada KMA No. 332 tahun 2023 tentang Sistem Peringatan Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan serta Kepdirjen Bimas Islam No. 1583,” tandas Dedi.
Gelaran SPARK 2024 Zona Sumatra yang diikuti oleh 50 peserta digelar selama lima hari, mulai Senin-Jumat, 10 hingga 14 Juni. Dari 50 peserta, terdiri dari 8 penghulu dan 42 penyuluh agama.
Wcp



