Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa) Kementerian Agama, Waryono menerima kunjungan Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) di Kantor Kemenag Jl. MH. Thamrin No.6 Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2023).
Dalam kesempatan itu, Waryono menjelaskan, program sukuk pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada 2008 dan berhasil mencatatkan pengumpulan dana sebesar Rp4,7 triliun.
“Hingga saat ini telah mencapai Rp2.300 triliun. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa sukuk di Indonesia semakin berkembang pesat dan menjadi salah satu alat instrumen yang membuat investor berminat untuk berinvestasi,” ungkapnya.
Menurut Waryono, pemanfaatan dana dari program sukuk telah mencakup berbagai sektor yaitu revitalisasi asrama haji, Kantor Urusan Agama (KUA), gedung perkuliahan PTKIN, dan sekolah agama (MAN, MTSN, dan MIN).
Tahun 2023, lanjutnya, Kemenkeu telah menyediakan instrumen wakaf yang tergabung dengan sukuk bernama CWLS (Cash Waqf Linked Sukuk).
“Dari hasil riset yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF), diperoleh data bahwa potensi wakaf uang di Indonesia bisa mencapai Rp180 triliun tiap tahun, namun realisasi pengumpulannya belum optimal,” papar Waryono.
Waryono melanjutkan, pihaknya telah merancang program wakaf uang di PTKIN. “Kami telah merancang program wakaf uang di PTKIN sebagai salah satu inkubator dalam mendukung program CWLS,” sambungnya.
Terkait itu, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kemenkeu dan BWI dalam optimalisasi wakaf uang di Indonesia.
“Kami berkomitmen untuk terus berkoordinasi bersama Kemenkeu, BWI, dan stakeholder lainnya dalam pengoptimalan wakaf uang untuk kemaslahatan umat,” tandasnya.
Sementara itu, Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu, Dwi Irianti Hadiningdiah menerangkan, dari Rp180 triliun potensi wakaf uang tiap tahun, pengumpulan wakaf uang hingga 2018 baru terealisasi sebesar Rp255 miliar.
Menurutnya, sejak 2010 hingga 2018, gerakan wakaf uang masih belum optimal. “Potensi wakaf uang ini perlu dioptimalkan,” pintanya.
Dwi berharap, perlunya membangun komitmen dan pelibatan semua stakeholder agar dapat mencapai potensi wakaf uang Rp180 triliun.
“Potensi wakaf uang ini mesti cepat terwujud agar dapat memberi manfaat lebih besar lagi kepada masyarakat,” pungkasnya.
Andayani/Wcp



