Waryono berencana merancang program pendidikan berkualitas bagi masyarakat miskin atau mustahik. Program tersebut akan dilakukan melalui pemberian beasiswa khusus untuk mustahik, sehingga para mustahik bisa mendapatkan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki standar tinggi. Pembiayaan program ini akan melibatkan kolaborasi antara BAZNAS dan LAZ.
"Kita perlu mendesain program mercusuar bersama BAZNAS dan LAZ. Kita ingin pendidikan mustahik itu berkualitas, tentu dididik di sekolah atau kampus yang berkualitas pula," jelas Waryono.
Waryono juga menekankan pentingnya memperkuat pendidikan sebagai langkah awal dalam mengubah status mustahik menjadi muzaki. Pendidikan berkualitas dianggap dapat mempercepat proses perubahan tersebut.
"Mempersiapkan pendidikan yang berkualitas bagi mustahik adalah cara kita mengubah mereka lebih cepat untuk menjadi muzaki," ujar Waryono.
Selain pendidikan bagi usia sekolah, Waryono menyoroti pentingnya memberi pelatihan dan pembinaan bagi mustahik yang berada di usia tidak sekolah, dengan harapan dapat meningkatkan usaha mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Waryono juga mengajak LAZ Al Abidin untuk mengajak pengumpul zakat yang belum berizin untuk segera mengurus izin. Pemerintah, imbuhnya, tidak mempersulit pengurusan izin, dan prosesnya tidak dikenai biaya.
"LAZ yang berizin masih ada yang melakukan penyelewengan, apalagi yang tidak. Proses izin di Kemenag itu mudah asal memenuhi ketentuan," tegasnya.
Direktur LAZ Al Abidin, Suparno menyampaikan, per Desember 2023, lembaga tersebut berhasil mengumpulkan Rp7,8 miliar, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar Rp3 miliar.
"Per Desember 2023 ini, baru terkumpul Rp7,8 miliar. Muzaki kita adalah para wali murid yang berzakat karena anak-anak mereka bersekolah di Yayasan Al Abidin," ungkap Suparno.
Dana yang terkumpul, tambahnya, banyak disalurkan untuk kegiatan pendidikan dan santunan untuk duafa.
Ba/Mr



