Program tersebut merupakan bagian dari program Revitalisasi KUA. Sejak peluncurannya pada tahun 2021, sudah 51 KUA yang menjadi bagian dari program ini.
Dalam kesempatan itu, Waryono meminta sepuluh penerima manfaat program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat untuk memberikan profil detail mengenai usaha mereka, termasuk informasi tentang pemilik usaha, jenis bisnis, perkembangan, dan kendala yang dihadapi. Informasi ini akan menjadi portofolio dokumentasi keberhasilan program.
Untuk meningkatkan peluang keberlanjutan usaha, Waryono menyarankan konsolidasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat. "Kerja sama tersebut diharapkan membuka akses lebih luas bagi pelaku usaha dalam memasarkan produk penerima manfaat," ungkapnya.
Waryono berharap, program ini dapat membuat para penerima manfaat menjadi "bankable" dengan meningkatkan kualitas laporan keuangan usaha mereka. Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama dengan bank, termasuk mitra bank BSI dan Mandiri, yang dapat memberi peluang pembiayaan yang lebih baik.
Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerjasama, Muhibuddin juga memberi arahan kepada para penerima manfaat. Dia mendorong penerima manfaat untuk lebih proaktif dalam mengembangkan usaha, dengan memanfaatkan dana stimulus sebagai pemacu keberlanjutan bisnis. "Penting untuk berjejaring dengan pemerintah dan bank sebagai langkah konkret untuk mendapatkan dukungan finansial yang lebih baik," ujarnya.
Selama kunjungan, Waryono juga melihat langsung keberhasilan salah satu penerima manfaat yang memproduksi peci sejak 2018. Usaha tersebut, setelah mendapatkan bantuan, berhasil mempekerjakan enam orang karyawan dengan keuntungan rata-rata enam juta setiap bulan. Produk peci mereka telah tersebar hingga Pontianak, Aceh, dan masuk ke toko oleh-oleh terbesar di Lombok.
Kesimpulan dari kunjungan ini adalah pentingnya kerja sama lintas sektor dan proaktifitas penerima manfaat untuk memastikan kesuksesan Program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat di tingkat lokal.
Andayani/Mr



