Bukittinggi, Bimas Islam-- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kemenag, Kamaruddin Amin mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Barat (Sumbar) untuk memaksimalkan perangkat keagamaan seperti masjid, Penyuluh Agama Islam, dan majelis taklim dalam memperkuat literasi kebencanaan. Menurutnya, selain tempat yang strategis, masjid juga memiliki komunitas/jemaah bersama penyuluh.
"Saya mengusulkan untuk memaksimalkan berbagai instrumen dan sarana untuk mengintensifkan gerakan literasi kebencanaan pada masyarakat, termasuk masjid, majelis taklim, dan Penyuluh Agama Islam," ujarnya dalam kegiatan Workshop Penguatan Literasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana di Sumatra Barat yang digelar di Bukittinggi, Selasa (30/7/2024).
Kamaruddin mengatakan, sebagai tempat pertemuan umat Islam, masjid juga bisa digunakan sebagai tempat peningkatkan literasi kebencanaan. "Saya menyakini, akan menjadi produktif jika masjid menjadi tempat menyampaikan literasi kebencanaan pada masyarakat," jelasnya.
Kamaruddin menjelaskan, peningkatan literasi kebencanaan di masjid bisa dilakukan dalam bentuk penyediaan naskah khotbah, ceramah-ceramah, serta pengajian atau kegiatan khusus terkait kebencanaan di masjid.
Kamaruddin menambahkan, selain masjid, terdapat pula komunitas seperti majelis taklim yang tidak kalah strategis dan produktif dalam peningkatkan literasi kebencanaan umat. Majelis taklim tidak hanya membahas ibadah mahdahsaja, tapi juga bisa membicarakan langkah-langkah pencegahan terjadinya bencana alam dan bencana lainnya.
"Selain majelis taklim, saya juga meng-engage penyuluh agama. Mereka bisa bekerja sama dengan entitas komunitas yang lain yang fokus dalam penanganan bencana," jelasnya.
Indonesia, imbuh Kamaruddin, merupakan negara dengan potensi bencana alam yang tinggi. Karenanya, diperlukan langkah antisipasi yang harus dipersiapkan.
"Di daerah-daerah, banyak sekali _local genius atau best practice yang biasa dilakukan, dimanfaatkan, dan digunakan masyarakat kita ketika menghadapi bencana. Mungkin ini belum belum dikapitalisasi secara memadai, sehingga tidak maksimal pemanfaatannya," imbuhnya.
Workshop Penguatan Literasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana di Sumatra Barat itu dibuka langsung oleh Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah. Kegiatan kolaboratif antara Kemenag, BRIN, Most UNESCO, Maxima, dan BPBD Sumatra Barat itu berlangsung Selasa-Rabu (30-31/7/2024). Kegiatan tersebut diikuti takmir masjid, penyuluh, dan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI).
Ba/Mr



