Kisahnya dimulai dari kebangkrutan usaha empang yang memicu gangguan mental dan halusinasi. Ia mengatakan, dirinya merasakan bisikan-bisikan saat hampa dan bengong. Pihak keluarga akhirnya menitipkan Bang Udin ke Dinas Sosial, lalu dititipkan ke pondok yang dikelola Ustaz Ruslan.
Sejak bergabung di pondok, Bang Udin aktif mengikuti kegiatan keagamaan seperti salat, salawatan, pengajian tajwid, dan fikih.
“Keseharian saya yaitu salat, salawatan, belajar tajwid, dan fikih,” terangnya kepada wartawan Bimas Islam.
Pendampingnya, Supri Efendi, menegaskan bahwa gangguan jiwa bisa menimpa siapa pun, termasuk orang yang memiliki jabatan tertentu.
“Gangguan kejiwaan bisa menyerang siapa pun. Bahkan, orang yang punya jabatan itu rentan terkena gangguan kejiwaan. Gangguan ini bukan karena tidak hadirnya iman, tapi rapuhnya pondasi agama pada seseorang,” ulas Supri.
Meski pernah mengalami depresi karena kehilangan modal besar, Bang Udin dan pendampingnya yakin bahwa pengobatan terbaik adalah jalan pulang pada agama.
“Karenanya, kami melakukan pendampingan untuk terus belajar agama, menjaga kondisi fisik dengan berolahraga agar mampu merawat kesehatan mentalnya (Bang Udin),” pungkas Supri.
Wcp/Mr
*Fotografer: Budi



