Tangerang, Bimas Islam – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang sangat beragam, termasuk dalam hal keagamaan. Terdapat sejumlah agama besar, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Ditambah lagi ratusan kepercayaan atau agama lokal yang dianut sebagian masyarakat. Keberagaman ini, jika tidak diantisipasi, menyimpan potensi konflik sosial. Lantas, bagaimana upaya untuk menanganinya?
Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Kemenag, Dedi Slamet Riyadi menjelaskan, upaya yang perlu dilakukan yaitu dengan memperkuat kohesi sosial (daya rekat masyarakat). Menurutnya, masyarakat yang memiliki kohesi sosial kuat tidak perlu lagi dicecar dengan kampanye dan dorongan untuk hidup rukun dan toleran. Kohesi sosial yang kuat akan menjadi dorongan untuk saling berinteraksi, bekerja sama, dan saling menguatkan tanpa melihat perbedaan agama, keyakinan, atau ras.
“Kohesi sosial dapat terbentuk melalui berbagai aktivitas bersama seperti olahraga, seni budaya, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kegiatan-kegiatan lainnya,” ungkap Dedi, mengulas Bimbingan Teknis Community Resilience dalam Pencegahan dan Penanganan Konflik Keagamaan yang digelar di Tangerang, Rabu (10/7/2024).
Dedi menyebut, terdapat sejumlah faktor yang dapat menguatkan kohesi sosial, yaitu nilai dan norma bersama, saling percaya (trust) dan saling menghormati, partisipasi sosial, keadilan sosial, serta identitas bersama.
“Faktor-faktor tersebut akan mencegah konflik dan perpecahan, dapat menyelesaikan perbedaan secara damai. Contohnya dialog antarumat beragama yang dilakukan di Maluku,” ucapnya.
Dedi mengungkapkan, di antara faktor utama yang bisa memperkuat kohesi sosial adalah ketika komunitas memiliki tujuan bersama atau terdapat musuh bersama. Tujuan bersama itu berupa kesejahteraan komunitas, pemeliharaan lingkungan, atau pemberdayaan ekonomi. Untuk memperkuat kohesi sosial dan mencegah konflik, sejumlah langkah konkret bisa dilakukan.
Gotong Royong dan Kerja Bakti
Gotong royong dan kerja bakti merupakan tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Kegiatan ini melibatkan seluruh anggota masyarakat dalam membersihkan lingkungan dan membangun infrastruktur desa. “Melalui gotong royong, warga dapat saling berinteraksi dan bekerja sama, yang pada akhirnya memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial,” ujar Dedi.
Musyawarah Mufakat
Dikatakan Dedi, musyawarah dan mufakat menjadi salah satu sarana dalam menentukan kebijakan dan program pembangunan. Dengan mengedepankan dialog dan konsensus, musyawarah mufakat mampu menciptakan keputusan yang adil dan diterima semua pihak, sehingga memperkuat kohesi sosial di tingkat lokal.
Toleransi Antarumat Beragama
Dialog antarumat beragama, imbuhnya, juga menjadi salah satu cara efektif untuk membangun saling pengertian dan toleransi. Melalui dialog, berbagai kelompok agama dapat berdiskusi dan memahami perbedaan serta persamaan yang dimiliki.
“Inisiatif ini bisa membantu menciptakan hubungan yang harmonis dan mengurangi potensi konflik antaragama, seperti yang terjadi di sejumlah daerah yang berhasil meredam ketegangan melalui pendekatan dialog,” pungkas Dedi.
Semakin sering berbagai kelompok yang berbeda bertemu dalam aktivitas bersama, kohesi sosial akan semakin kuat. Masyarakat akan semakin saling mengenal, percaya, dan akhirnya bekerja sama. Dengan memperkuat kohesi sosial, diharapkan masyarakat Indonesia dapat terus hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan bekerja sama dalam membangun bangsa yang lebih kuat dan stabil.
Wcp-Sk/Mr



