Hal itu disampaikannya dalam acara Pembinaan Penyuluh Agama Islam Dalam Pengembangan Kampung Moderasi Jakarta Timur pada Kamis (25/1/2024).
Menurutnya, peningkatan polarisasi dan konflik antaragama dapat mengancam kerukunan sosial, keberagaman, serta stabilitas perekonomian dan perkembangan sosial. Wamenag menegaskan, Kampung Moderasi Beragama penting untuk mengatasi tantangan ini.
“Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan dalam polarisasi dan konflik antaragama di beberapa daerah di Indonesia, masalah ini mengancam keberagaman dan kerukunan sosial, serta dapat memiliki dampak negatif pada stabilitas perekonomian dan perkembangan sosial. Oleh karena itu, program ini menjadi lebih penting daripada sebelumnya,” ujar Wamenag.
Diketahui, konflik antaragama sering terjadi di tengah masyarakat perkotaan, di antaranya penolakan pembangunan rumah ibadah di Cilegon (2022), penolakan aktivitas peribadatan di Solo (2023), dan sejumlah kasus lainnya. Wamenag berharap, Kampung Moderasi Beragama dapat mempromosikan harmoni dan toleransi antarumat beragama untuk mengatasi persoalan tersebut.
Ia juga mengungkapkan pentingnya peran pemerintah, dukungan institusi agama, partisipasi masyarakat sipil, dan pemimpin lokal dalam mendukung program tersebut.
“Melalui pembangunan Kampung Moderasi Beragama, diharapkan dapat terjadi pergeseran paradigma dalam cara berinteraksi dan berkomunikasi antara umat beragama. Hal ini mencakup membangun saling pengertian, menghormati perbedaan, dan mendorong dialog yang positif untuk mencapai kedamaian dan kerukunan yang berkelanjutan,” ucap Wamenag.
Wamenag berharap, Kampung Moderasi Beragama di tahun 2024 menjadi wahana untuk menyatukan berbagai identitas dalam membangun toleransi umat dan menghindari polarisasi konflik antaragama. Ia berpesan kepada Penyuluh Agama Islam untuk selalu memberi kontribusi terbaik dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Acara Pembinaan Penyuluh Agama Islam Dalam Pengembangan Kampung Moderasi Jakarta Timur dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Kasubdit Penyuluh Agama Islam, Amirullah; Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Zakat Wakaf Kantor Wilayah DKI Jakarta, Slamet Abadi; Kepala Kantor Kemenag Jakarta Timur, Zulkarnain; serta narasumber dari praktisi dan akademisi. Peserta acara ini terdiri dari sekitar 100 Penyuluh Agama Islam di Kota Jakarta Timur.
Fn/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



