Jakarta, Bimas Islam -- Menteri Agama periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin mengulas peran penting keberagaman untuk mewujudkan kerukunan umat beragama. Ia mengungkapkan, Tuhan menginginkan adanya keragaman agar manusia dapat saling mengenal, melengkapi, dan bersinergi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Keragaman itu niscaya. Tuhan tidak menginginkan kita seragam, tetapi beragam. Dengan keragaman, kita diajak untuk saling mengenal, bersinergi, memahami satu sama lain agar bisa hidup harmonis dan rukun dengan penganut agama lainnya,” ujarnya dalam kegiatan Sekolah Penyuluh dan Penghulu Aktor Resolusi Konflik (SPARK) 2024 di Jakarta, Rabu (12/6/2024).
Lukman mencontohkan, setiap agama memiliki kitab suci yang kaya akan simbolisme dan kiasan. Kosakata dalam kitab suci tidak hanya memiliki satu makna tunggal, tetapi juga membuka ruang munculnya beragam penafsiran.
“Ini menunjukkan bahwa Tuhan juga menginginkan manusia untuk berpikir, merenung, dan berdialog,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjutnya, ia menegaskan bahwa perbedaan penafsiran yang muncul dari kitab suci seharusnya tidak menjadi sumber konflik, tetapi menjadi sumber rujukan yang memperkaya pemahaman umat manusia tentang ajaran agama.
“Keragaman itu adalah anugerah dari Tuhan untuk kita saling mengisi dan melengkapi. Tuhan bisa saja menjadikan semua manusia beragama Islam, namun Dia memilih menciptakan keragaman sebagai bentuk ujian untuk mengangkat harkat dan martabat manusia,” terang Lukman.
Terkait itu, imbuhnya, toleransi menjadi pilihan untuk merespons keberagaman. Pesan ini ditekankan sebagai cara untuk menghormati kehendak Tuhan dan menciptakan kedamaian di tengah umat beragama.
“Karenanya, keberagaman bukanlah ancaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap toleransi akan mengantarkan kita mencapai perdamaian dan keharmonisan di tengah keberagaman,” tandas Lukman Hakim Saifuddin.
Wcp



