Padang, Bimas Islam --- Ratusan Jemaah tampak khusyuk melaksanakan Salat Kusuf atau Salat Gerhana Matahari di Masjid Raya Sumatera Barat. Turut serta dalam barisan jamaah Gubernur Sumatera Barat, Kakanwil Kemenag Sumbar, Kabag TU, Kabid-kabid dan Kasi-Kasi di Lingkungan Kanwil Kemenag Sumbar, Kabiro Bina Mental dan Kesra. Tampak hadir juga Ketua dan Sekretaris DWP Kanwil Kemenag Sumbar, Kakankemenag Kota Padang, Kepala Madrasah, Penyuluh Agama Islam Kanwil dan Penyuluh Agama Islam Kota Padang.
Shalat di pimpin oleh Imam Ustadz Rafles dan Khatib Prof. Duski Samad. Sebelum salat dimulai kegiatan diisi dengan laporan dari Ketua Pengurus Masjid Raya, Sobhan Lubis. Kemudian sambutan Kakanwil Kemenag Sumbar, H. Hendri, serta sambutan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dalam sambutannya mengatakan gerhana matahari merupakan tanda kebesaran Allah dan pelaksanaan shalat sunnat gerhana merupakan sunah nabi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah.
"Fenomena gerhana matahari ini menjadi bagian dari kekuasaan Allah SWT, agar manusia selalu ingat bahwa ada kekuatan Allah yang mengatur seluruh alam semesta," katanya yang juga mengikuti pelaksanaan salat gerhana matahari yang digelar di Masjid Raya Sumbar.
Kemudian Irwan Prayitno mengajak para jemaah untuk menjaga kebersihan, membawa peralatan ibadah sendiri.
"Mari kita mendekatkan diri kepada Allah dengan turut menunaikan shalat sunnah gerhana matahari. Namun tetap memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19," ungkapnya.
Usai salat sunnah kusuf langsung dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh Prof. DR.H. Duski Samad, M.Ag dengan judul Gehana Matahari Kuatkan Aqidah dan Ilmiah.
Sebagai seorang ulama dan juga guru besar, kali ini Duski Samad menilik Gerhana dari dua sisi, yakni aqidah dan keilmuan.
Menurutnya, sudah lumrah kiranya fenomena-fenome alam yang terjadi kita jadikan momen untuk meningkatkan aqidah dan keyakinan kita terhadapa Allah SWT. Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah. Allah-lah yang menciptakan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Al Qur'an membimbing manusia, bahwa peristiwa alam adalah laayatul lil ulil al bab, tanda-tanda, morse, yang dapat dibaca orang cerdas. Fenomena gerhana adalah saatnya menghadirkan perasaan takut dan khawatir akan terjadi kiamat, jelasnya lagi.
Kemudian ia melanjutkan hikmah yang dapat diambil dari peristiwa gerhana ini adalah, sebagai salah satu tanda diantara kekuasaan Allah. Dalam skala besar hikmah gerhana adalah tanda akan hadirnya Dzat dengan kekuasaan yang tak mungkin tertandingi oleh apapun dan siapa pun.
Secara ilmiah, hikmah kejadian ini adalah sebagai pemisalan. Contoh kasus akan terjadi pada hari kiamat bahwa hal tersebut mudah bagi Allah, begitu lanjut Duski.
Kemudian Ia mengingatkan empat amalan yang dapat dilakukan ketika gerhana matahari, yakni berdoa, bertakbir, shalat khusuf dan bersedekah.
Duski mengajak mari pergunakan kajian ilmiah dalam menyikapi fenome yang terjadi dalam rangka mendekatkan diri kepada Alllah. Mari jadi masyarakat yang kuat aqidah dan cerdas ilmiah sehingga terjawab makna ulil albab.
Usai pelaksanaan salat gerhana, Gubernur, Kakanwil berserta jajaran dan para jemaah berkesempatan mengamati peristiwa gerhana melalui teleskop yang telah dipersiapkan oleh Tim BHR Kanwil Kemenag Sumbar. Namun karena cuaca yang mendung, peristiwa gerhana tak terlihat karena memang hari ini terjadi gerhana matahari cincin sekitar 9,9 persen.
(sumbar.kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



