Makassar, Bimas Islam -- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa), Waryono Abdul Ghafur mengatakan, pilot project berbasis wilayah dan roadmap kolaborasi BAZNAS dan LAZ sangat diperlukan dalam optimalisasi penyaluran zakat. Misalnya, kolaborasi di bidang pemberdayaan mustahik dan pembagian data mustahik.
Hal itu diungkapkannya dalam kegiatan Rapat Pembinaan LAZ se-Sulawesi Selatan, Rabu (20/9/2023), di Makassar.
Dikatakannya, kolaborasi Kemenag, BAZNAS, dan LAZ bersama Pemerintah Daerah (Pemda) seperti Bagian Sekretaris Pemda, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, dan UKM juga sangat diperlukan.
Selain itu, komunikasi dengan perguruan tinggi negeri dan swasta juga tak kalah penting dalam sosialisasi dan koordinasi pengelolaan zakat di daerah. Peran mahasiswa dan riset kajian bersama peneliti, imbuhnya, juga sangat dibutuhkan.
“Kita perlu membuat roadmap kolaborasi dalam program pemberdayaan bersama. Misalnya membuat peta anak muslim miskin dan potensi berkembang melalui pendidikan formal dan non formal, sesuai asesmen dari LAZ,” ujar Waryono.
Selain itu, ia juga menyebut, BAZNAS dan LAZ perlu mengunjungi rumah dan mengayomi banyak orang, dan berkonsentrasi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan.
“BAZNAS dan LAZ juga perlu berkonsentrasi dalam pengembangan SDM melalui beasiswa dan aspek kesehatan. Paradigmanya, zakat harus mencegah penyakit, bukan mengobati,” ucapnya.
Dalam kesempatan ini, Waryono didampingi Kepala Seksi Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Bakrie. Kegiatan ini diikuti perwakilan Forum Zakat dari 11 LAZ di Sulsel.
Fn/Mr



