Tangerang, Bimas Islam --- Penilaian buku umum keagamaan Islam yang diselenggarakan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama menjadi media penting dalam upaya peningkatan mutu literasi masyarakat terutama yang merefleksikan nilai ajaran Islam rahmatan lil alamin dan spirit wawasan kebangsaan.
Pernyataan pembuka tersebut menjadi pembahasan awal yang disampaikan oleh Sekretaris Ditjen Bimas Islam (Sesditjen) M. Fuad Nasar dalam kegiatan penilaian buku umum keagamaan Islam, bertempat di Hotel Allium Tangerang, Senin (28/09).
“Pertemuan yang turut dihadiri para pegiat dunia perbukuan ini merupakan forum penting yang dapat mendinamisasi pola kerja Bimas Islam dalam penilaian buku dan naskah keislaman, sehingga upaya peningkatan kualitas dan mutu literasi di masyarakat dapat menggambarkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin dan berspiritkan kebangsaan”, ulas Fuad Nasar.
Dalam memotret akar dan sejarah tingginya kualitas literasi di Indonesia, Fuad Nasar memberikan contoh sederet nama dari tokoh pergerakan di awal kemerdekaan, yang menurutnya tidak hanya hadir sebagai ahli retorika yang membakar semangat anti penjajahan, namun berkarakter penulis yang dipenuhi jiwa kritis dan kreatif.
“Tantangan dunia literasi kita saat ini seharusnya dapat melahirkan generasi yang tidak kalah kualitasnya dengan para tokoh pendiri bangsa, karena sosok-sosok seperti Bung Karno, Hatta, Agus Salim, Sjahrir, Tan Malaka, Wahid Hasyim, Buya Hamka lahir di tengah masa kegelapan politik baik dalam arti penjajahan fisik, pengetahuan maupun perang, namun demikian kondisi tersebut justru melahirkan karya dari para penulis hebat yang kritis dan berjiwa kreatif”, ungkapnya.
Merespon perkembangan dunia digital saat ini menurut Fuad Nasar akan menjadi tantangan tersendiri yang fokus dan penyelesaiannya akan semakin khas dan kompleks, tapi tetap berada pada jalur yang dinamis.
“Dunia perbukuan hingga saat ini terbukti memiliki daya imunitas yang mengesankan, yaitu meski di tengah perkembangan teknologi digital dan masih rendahnya minat masyarakat, namun dukungan ekosistem literasi perbukuan membuktikan pergerakan tersebut masih berjalan dinamis”, ujarnya.
Mendukung sikap optimismenya itu, Fuad Nasar menunjukkan fakta keberadaan jumlah perpustakaan Indonesia yang menduduki posisi terbesar ke dua sedunia setelah India serta hadirnya Undang-undang Sistem Perbukuan No.3 Tahun 2017 yang merespon literasi cetak dan digital, dengan tiga semboyan utama yaitu berupaya menghadirkan ekosistem literasi yang bermutu, murah, dan merata.
Menjelang akhir bahasannya, Fuad Nasar mengapresiasi peran Direktorat Urais dan Binsyar dalam mengoptimalkan berbagai metode dan pendekatan program, baik yang dilakukan dalam bentuk pengendalian mutu buku keislaman maupun dalam penguatan ekosistem literasi bagi penerbit, ormas Islam hingga komunitas Kepustakaan lainnya. Menurut Nasar hal yang berupa penjagaan kualitas perbukuan tersebut merupakan pelaksanaan tanggung jawab semua pihak dan menjadi bagian dari tujuan tercapainya perwujudan karakter bangsa.
“Bentuk pertemuan yang melibatkan segenap unsur literasi ini menjadi hal yang berharga, karena secara bersama kita dapat mengambil dan berbagi peran, terutama dalam konteks menghadirkan kualitas buku yang bermutu maka adanya filter terhadap aspek relevansi, sasaran, manfaat, tanggung jawab moral hingga intelektual akan menjadi perhatian yang seimbang, dengan peran direktorat urais binsyar insyaallah tujuan penguatan ruhani dan karakter bangsa akan tercapai”, jelasnya.
Pada sesi dialog, Fuad Nasar mendapatkan sedikitnya tiga masukan dari peserta, pertama terkait dengan optimalisasi peran Subdit Kepustakaan Islam dalam menghadirkan kembali produk-produk literasi keulamaan lokal nusantara, kedua agar mereproduksi literasi berharga karya ulama dalam bentuk media kreatif maupun digital, hingga mengkampanyekan kembali gerakan wakaf buku di lingkungan keagamaan masyarakat.
Dalam penutup pemaparannya sosok intelektual birokrat Kementerian Agama yang telah menerbitkan puluhan buku Islam dan Kebijakan ini menitipkan pesan penting tentang tradisi menulis dan membaca sebagai dua sisi dari mata pisau yang memiliki aspek kemuliaan yang setara.
“Menulis pada hakikatnya bekerja untuk keabadian. Apa yang diucapkan akan lenyap, apa yang ditulis akan meninggalkan jejak. Buku adalah anak ruhani manusia. Buku merupakan warisan intelektual bangsa dan umat manusia. Demikian pula dengan membaca yang merupakan sebuah aktivitas berpikir, aktivitas budaya dan salah satu ciri bangsa yang berkebudayaan tinggi. Di era digital buku tetap dibutuhkan. Buku mengisi tempat yang tak bisa digantikan oleh media mana pun”, terang Fuad Nasar.
Hadir sebagai peserta kegiatan ini, 30 orang terdiri atas unsur Peneliti Balitbang Kementerian Agama, Balai Litbang Agama Jakarta, Ditjen Pendis, LPBKI MUI, Akademisi UNUSIA, PTIQ Jakarta, Lakpesdam PBNU, Maarif Institute, Bincang Syariah, harakah.id, Pustaka Khalifah, Pustaka Rumi, dan beberapa pegawai di lingkungan Ditjen Bimas Islam.
(Syafaat/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



