Hal itu disampaikannya kepada wartawan Bimas Islam di Jakarta, Selasa (23/1/2024).
"Pendidikan Islam yang diberikan kepada generasi Z harus menarik, relevan, dan inklusif. Menarik berarti pendidikan tersebut harus mampu menggugah minat generasi Z untuk mempelajarinya," ungkap Wida.
Relevan, lanjutnya, berarti pendidikan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan generasi Z. Sementara inklusif berarti pendidikan tersebut harus dapat diterima semua kalangan, termasuk generasi Z yang memiliki latar belakang yang beragam.
Ia menjelaskan, media sosial dan platform digital merupakan sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai positif budaya Islam kepada generasi Z. Oleh karena itu, perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang relevan dengan kehidupan generasi Z.
"Generasi Z lebih mudah terpengaruh oleh orang-orang yang mereka idolakan. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan model atau teladan yang menginspirasi untuk menanamkan kecintaan pada budaya Islam. Model atau teladan tersebut dapat berupa tokoh agama, artis, atau influencer yang memiliki nilai-nilai Islam yang kuat," ungkapnya.
Msk/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



