Jakarta, Bimas Islam -- Desa Gasol, Cianjur, Jawa Barat menjadi contoh nyata peran Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) dalam pemulihan dan transformasi komunitas pasca bencana. Setelah dilanda gempa 2022 silam, Kampung Gasol tidak hanya bangkit kembali, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata yang menarik melalui kolaborasi antara lembaga zakat dan masyarakat setempat.
Kepala Program Teknologi Tepat Guna LAZ Amal Salaman, Abdul Azis menuturkan, gempa yang melanda Kampung Gasol, Cianjur membawa kerugian besar, baik materi maupun non-materi. Dalam situasi ini, Azis mengatakan, LAZNAS memiliki peran sangat penting untuk memberikan bantuan darurat dan merencanakan pemulihan jangka panjang.
Azis bercerita, LAZ Amal Salaman melakukan penataan Kampung Cikadu, Desa Gasol pasca bencana yang melanda Cianjur 2022 silam. Kemudian bersama masyarakat, LAZNAS menginisiasi program-program rehabilitasi infrastruktur, dan bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Negara (ATR/BPN).
“Waktu gempa di Cianjur, rumah roboh semua. kita menemukan kampung yang terisolasi, dan di sana kita bekerja sama dengan Kementerian ATR/BPN melakukan konsolidasi tanah,” ujar Azis dalam program Ekspos Zakat Wakaf di Kanal Youtube Literasi Zakat Wakaf, Kamis (11/7/2024).
Azis melanjutkan, program tersebut bukan hanya tentang memperbaiki infrastruktur, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif warga dalam musyawarah dan menyisihkan sebagian tanah untuk kepentingan bersama. Dalam proses pembangunan, warga berpartisipasi untuk ikut melakukan sedekah persil sebanyak 10 persen dari pembangunan.
“Dalam proses musyawarah, warga menyisihkan sekitar 5-10% tanahnya untuk membantu memperbesar akses jalan utama serta gang dalam kampung. Semula jalan utama rabat beton memiliki lebar 1,5 M, kemudian ditingkatkan menjadi jalan paving block selebar 2,6 M dilengkapi drainase selebar 0,4 M. Begitu juga jalanan di gang yang berkelok diupayakan menjadi lebih lurus dengan lebar 1,2 M tersambung ke jalan utama,” ucap Azis
Azis mengungkapkan, meski banyak kemajuan yang dicapai, perjalanan tidak selalu mulus. Tantangan seperti kurangnya aksesibilitas, keterbatasan dana, dan pertentangan terhadap perubahan sempat menghambat. Namun, dengan dukungan terus-menerus dari lembaga zakat dan semangat pantang menyerah warga, tantangan ini dapat diatasi.
Azis menuturkan, Kampung Cikadu juga akan dijadikan sebagai Kampung Zakat dan bagian dari Desa Wisata Literasi Gasol. Gagasan pengelolaan lanskap pasca bencana desa wisata dibantu oleh arsitek dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITB.
“Keterlibatan para arsitek ini konsisten dilakukan sejak program tanggap darurat Cianjur. Beberapa karya kolaborasi di antaranya, pembangunan shelter tempat tinggal dan shelter Puskesmas, serta gazebo yang juga melibatkan mahasiswa dari Universitas Florida, Amerika Serikat,” tutur Azis.
Terakhir, Azis menyatakan, Kampung Cikadu menjadi contoh nyata kolaborasi antara LAZNAS dengan berbagai pihak untuk mengambil hikmah dari musibah, menjadi peluang pemulihan dan kemajuan. Semangat dan kerja keras masyarakat serta dukungan dari berbagai pihak telah membawa harapan baru bagi masa depan yang lebih baik.
Fn/Mr



