Jakarta, Bimas Islam --- Yasir adalah seorang Penyuluh Agama Islam (PAI) Non PNS di KUA Wonotunggal, Batang, Jawa Tengah dan memiliki dua desa binaan; Desa Sigayam dan Desa Sendang.
Sejak Juni, Yasir ditugaskan dalam Tim Relawan Pantura sebagai petugas yang memakamkan jenazah korban Covid-19. Saat dirinya memutuskan untuk mengambil tanggung jawab tersebut, telepon selulernya tidak boleh mati dan dirinya harus selalu siap jika tiba-tiba mendapat panggilan dari Rumah Sakit untuk melaksanakan ‘tugas suci’ di lokasi pemakaman.
Dalam tim relawan Batang, Yasir bertugas sebagai imam salat jenazah dan memimpin talqin mayit sesaat jenazah sudah dimakamkan. Saat bertugas, dirinya dan tim harus menggunakan pakaian hazmat lengkap dengan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker.
“Tak lupa disemprot disinfektan sebelum dan selesai bertugas,” katanya.
Sebagai manusia normal, Yasir merasakan takut dan cemas karena harus berada sangat dekat dengan pasien korban keganasan Covid-19.
“Ikhtiar saya dalam bertugas menjalankan pemakaman sesuai protokol dan tak lupa diawali dengan berdoa agar selalu dilindungi oleh yang maha kuasa,” ujarnya.
Selain itu tentu rasa lelah juga dirasakan. Setiap pekerjaan pasti lelah, namun lelah yang dirasakan Yasir dan Tim Relawan Pantura berbeda. Jika pemakaman sampai larut malam, tim harus menginap di markas. Karena jika langsung pulang ke rumah ia khawatir membawa virus dan menular kepada anggota keluarganya.
Selama bertugas, suka dan duka dirasakan Yasir. Saat itu di sebuah desa di Kecamatan Warungasem, keluarga jenazah dan warga sekitar tidak setuju dengan adanya pemakaman dengan standar protokol Covid-19.
Yasir menceritakan, saat warga memaksa masuk ke lokasi pemakaman. Ketegangan terjadi antara tim relawan dengan warga sekitar. Sampai aparat kepolisian yang turun di lokasi pun tidak mampu mencegah kemauan mereka. Warga berhasil mengambil alih tugas tim relawan Covid-19 dan memaksa mereka meninggalkan lokasi pemakaman. Cerita duka ini melengkapi pengalaman Yasir selama bertugas sebagai tim relawan.
Namun tiga bulan menjalankan tugas suci, tidak membuat Yasir lupa dengan kewajibannya kepada keluarga dan jamaahnya. Yasir selalu berusaha membagi waktu untuk keluarga dan jamaahnya. Ia tetap mengajar TPQ, Madin, dan mengisi pengajian rutin di tempat yang dibinanya.
Pengabdian Yasir patut dicontoh, ia merupakan satu di antara garda depan dalam menangani jenazah pasien Covid-19. Sebab garda terdepan dalam perang menghadapi pandemi virus bukanlah tenaga medis, dokter, apalagi pemerintah melainkan masyarakat atau publik.
(bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



