Jakarta, Bimas Islam --- Bagi yang memiliki kelengkapan indra, bercakap-cakap dengan Tuhan melalui membaca Al-Qur’an bukanlah hal yang sulit. Begitu banyak guru yang bisa membimbing. Banyak metode yang bisa digunakan untuk belajar. Tidak ada kesukaran yang berarti dalam menggunakan lisan yang merupakan instrumen utama dalam membaca Kalam Tuhan yang suci.
Namun, tidak demikian bagi mereka yang diberi keistimewaan. Mereka yang kerap disebut disabilitas harus berjuang lebih keras untuk bisa berdialog dengan Tuhan. Jika mereka yang tuna netra bisa menggunakan Al-Qur’an Braille, mereka yang mengalami tuna rungu belum mendapatkan fasilitas serupa. Padahal, mereka yang mengalami tuna rungu secara bersamaan ada yang mengalami tuna wicara.
Tantangan inilah yang dijadikan sebagai peluang kebaikan oleh wanita kelahiran tahun 1984 asal Gorontalo. Namanya Riska Duduti. Wanita ini telah menamatkan strata duanya di Institut Agama Islam Negeri Gorontalo. Riska yang merupakan penyuluh agama Islam (PAI) PNS ini mengaku bersemangat mengajarkan anak-anak tuna rungu agar bisa bercakap-cakap dengan Tuhan melalui Al-Qur’an yang mulia.
“Saya enjoy. Saya nikmati hidup ini. Ini sesuatu dari Allah. Saya nikmati saja. Kita punya spirit untuk memperjuangkan anak-anak tuna rungu. Prinsip kita, jika bukan kita yang memperjuangkan mereka, siapa lagi?” ungkap Riska kepada Bimas Islam saat ditemui di Kanwil Kemenag Gorontalo, Rabu (30/12/20).
Riska yang sehari-hari menempuh perjalanan selama 20 menit dari rumahnya di Kota Gorontalo menuju tempatnya mengajar di SLB Kabupaten Gorontalo ini bersemangat mengajarkan anak-anak tuna rungu untuk belajar membaca Al-Qur’an. Anak-anak ini membaca Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa isyarat berstandar internasional.
“Penyuluh punya program kerja berupa bimbingan di SLB. Kita sering ke SLB. Programnya tausyiah. Saya melihat ada yang berbeda. Hanya sebatas inikah yang diketahui anak-anak? Padahal, mereka sama dengan kita yang bisa mendengar,” ungkapnya bersemangat.
Penyuluh Ahli Muda ini pun berniat mengajarkan anak-anak tuna rungu agar bisa membaca Al-Qur’an. Ia berkoordinasi dengan koleganya yang memiliki perhatian terhadap penyandang disabilitas. Usai didapati kata sepakat, Riska menyampaikan sosialisasi kepada orang tua yang sehari-hari mendampingi anak-anak di SLB.
“Setelah saya tanya ke orang tuanya, banyak anak yang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Tuna netra kan ada Qur’an Braille. Ada kamusnya. Mereka bisa cepat belajar dan bisa mengandalkan rekaman. Sementara anak tuna rungu tidak demikian. Para guru pun sulit mengajarkan anak tuna rungu agar bisa membaca Al-Qur’an. Mereka bingung mau mulai dari mana,” tambah Riska.
Berbekal semangat, Riska mempelajari bahsa isyarat khusus untuk tuna rungu. Riska juga menggunakan media gambar untuk mengajar. Ia memulai dari huruf hijaiyah.
“Saya menyimpulkan bahwa anak-anak tuna rungu bisa belajar menggunakan gambar. Api A (Alif), Balon Ba’, Tangan Ta’, Salju Tsa’, Jagung Ja, Hati Ha. Ini saya dapatkan dari workshop bersama Pak Andi Suryadi, dan saya coba amalkan,” ungkapnya.
Spirit Mulia
Riska seperti berjuang sendiri. Sekian tahun membimbing anak tuna rungu agar bisa membaca Al-Qur’an, ia tak juga mendapatkan penerus. Begitu banyak kawan yang dia ajak, tetapi semuanya menyerah di tengah jalan. Wanita kelahiran Gorontalo ini mengaku tak pernah putus asa. Semangatnya senantiasa berkobar karena memiliki alasan yang kuat dan mulia.
“Saya termotivasi untuk memperjuangkan mereka. Prinsip saya, kita kan hamba Allah dan ummat Nabi yang sama. Kita punya hak yang sama dong untuk belajar. Kita punya hak untuk mendapatkan hidup yang layak. Saya mengajarkan mereka agar bisa membaca Al-Qur’an karena kita sama-sama hamba Allah dan umat Nabi yang punya hak sama untuk mengaji. Jangan sampai kita yang bisa mendengar kalah dengan mereka,” terang Riska, sembari tersenyum.
Riska juga berpesan agar kita yang mampu mendengar jangan sampai kalah semangat dengan mereka yang tidak bisa mendengar dan tak bisa berbicara. Jangan sampai waktu habis untuk bermain sementara mereka bersemangat belajar membaca Al_Qur’an, meski dengan isyarat.
Buah Perjuangan
Riska yang merupakan penyuluh PNS sejak 2011 mulai fokus mengajarkan membaca Al-Qur’an untuk anak tuna rungu sejak 2015. Dua tahun berikutnya, Riska semakin bersemangat. Banyak masyarakat yang menawarkan kepadanya untuk mengajar secara privat. Namun, ia menolak. Menurutnya, mengajar di SLB lebih efektif karena bisa menampung banyak anak sekaligus minim biaya. Anak-anak SLB ini diberi fasilitas makanan dan asrama dari pemerintah.
Waktu berlalu, perjuangan Riska semakin terlihat buahnya. Pada tahun 2018, Riska berhasil mendapatkan juara dua dalam Lomba Penyuluh Teladan Tingkat Nasional. Riska berhasil mendapatkan peringkat dua terbaik dalam kompetisi yang melibatkan 34 penyuluh dari 34 provinsi di seluruh Indonesia.
Selain meraih peringkat kedua tingkat Nasional, ada kesan mendalam yang dirasakan Riska dari orang tua siswa. Orang tua yang anaknya dididik hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan bahasa isyarat ini mendatangi Riska dengan berurai air mata.
“Salah satu ibu curhat dengan menangis. Anaknya bernama Revan. Tuna rungu. Dia mengaku bersyukur karena saya mengajar di sini. Rumahnya dekat masjid. Tiap sore, saat anak-anak memegang Qur’an melewati depan rumahnya, dia berdoa, ‘Ya Allah, kapan anak saya bisa seperti mereka. Cuma anak saya tidak seperti mereka.’ Setelahnya belajar ke saya, ia merasa bahwa doanya terjawab,” kisahnya.
Mendapati pengakuan dari salah satu orang tua muridnya itu, Riska tak tinggi hati. Ia merasa bahwa mengajar adalah kewajibannya sebagai penyuluh.
“Alhamdulillah. Kita belajar bersama, Bu. Saya penyuluh. Ini memang sudah menjadi tugas saya,” ungkapnya kepada Ibu Revan.
Mengabdi Sepenuh Hati
Sebagai juara dua tingkat nasional, Riska berhak mendapatkan hadiah senilai Rp 18.000.000,-. Namun, ia tak menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadinya. Ia membeli rumah petak yang kelak akan digunakan sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an bagi anak-anak tuna rungu.
“Insya Allah 2021 sudah ada tempatnya. Saya sudah ada tempatnya. Dan sudah mendata anak tuna rungu. Saya ada wadah untuk tuna rungu di Kabupaten Gorontalo. Insya Allah 2021 sudah eksis. Waktu 2018 juara nasional mendapat hadiah 18 juta, saya belikan rumah sederhana khusus untuk anak-anak tuna rungu. Masih rumah sederhana,” tuturnya dengan nada gembira.
Selain mengajarkan membaca Al-Qur’an, Riska juga mengajarkan berbagai keterampilan untuk anak-anak tuna rungu. Tak lupa, ia juga mengajarkan konsep tauhid dan berbagai disiplin ilmu sesuai dengan pemahaman yang bisa ditangkap anak didiknya.
“Kalau mengajar, saya sampaikan kepada anak-anak, jika kalian bisa belajar mengaji kalian bisa masuk surga. Mereka bertanya, apa itu surga? Saya jawab, di surga banyak makan. Makanannya enak-enak. Saya menceritakan kepada mereka bahwa di surga ada makanan enak, tempat tidur yang nyaman, sehingga mereka mendapatkan pengalaman baru secara spiritual. Saya juga kerap membagi snack agar anak-anak bersemangat mengaji,” ungkapnya seraya tersenyum.
Riska bersyukur. Keluarganya memberikan dukungan penuh. Ia menjalani perjuangan mendidik anak-anak tuna rungu dengan sepenuh hati. Di akhir perbincangan dengan Bimas Islam, Riska menyelipkan semangat kepada puluhan ribu penyuluh di seluruh nusantara.
“Untuk teman-teman penyuluh, tetaplah bekerja, tetaplah menjadi yang terbaik, teladan untuk semua. Tetap istiqomah menjadi penyuluh dan jangan patah semangat untuk mengajarkan ilmu agama, terutama mengajarkan Al-Qur’an kepada semua orang, siapa pun itu. Karena sesungguhnya, kita ini sama-sama makhluk Allah dan umat Nabi yang punya hak yang sama untuk belajar agama dan lebih utama lagi belajar Al-Qur’an,” pungkasnya.
Dalam mengajar anak-anak tuna rungu membaca Al-Qur’an, Riska menggunakan buku panduan bahasa isyarat secara islami. Selain cara membaca huruf hijaiyah dengan bahasa isyarat, di buku panduan yang digunakan secara internasional ini terdapat isyarat untuk membaca surat-surat pendek di juz 30. Ada 14 surat yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat yang disepakati secara internasional.
(pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



