Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo (Kankemenag) Adi Susono mengatakan, mayoritas masyarakat Karo memeluk agama Kristen dan minoritas agama Islam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo 2021, penduduk yang beragama Kristen sebanyak 74,31%, di mana Kristen Protestan 58,22% dan Katolik 16,09%. Selain itu, agama Islam juga banyak dianut penduduk Kabupaten Karo, yakni mencapai 25,90% dan selebihnya menganut agama Buddha yakni 0,41%, Konghucu 0,35% serta Hindu 0,03%, dan umumnya berada di Kabanjahe dan Berastagi.
Menurut Adi, kehidupan harmonis masyarakat Karo sudah terjalin sejak dulu. Keragaman suku, etnis, dan agama justru merekatkan hubungan mereka dan hidup berdampingan penuh kedamaian.
“Moderasi beragama sejatinya adalah nilai yang telah diamalkan masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Karo. Tetapi, umat Islam di Karo memerlukan peningkatan dasar-dasar pemahaman agama,” papar Adi saat saat menerima rombongan Dai 3T pada Sabtu (2/3/24).
Guru agama Islam di Karo masih sangat terbatas, Adi berharap adanya Dai 3T bisa meningkatkan pemahaman agama, mulai dari Akidah, baca tulis Al-Qur’an, Fikih, hingga Ubuddiyah.
Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Subdit Dakwah dan Hari Besar Islam, Ria Arlina mengatakan, program Dai 3T merupakan upaya Kemenag untuk memperkuat nilai moderasi beragama serta mengurangi buta aksara Al-Qur'an, serta pemahaman akidah dan syariat.
“Dua Dai di Karo yaitu Ustaz Ali Imron dan Ustaz Ahmad Mamduh, kemudian satu lagi Ustaz Imaduddin akan kami hantarkan ke Kabupaten Samosir. Kami berharap para dai ini bisa dimaksimalkan oleh masyarakat Muslim di Karo selama satu bulan,” ungkap Ria.
Menurutnya, tujuan utama program ini adalah upaya pemberantasan buta aksara Al-Qur'an dan pemahaman aspek akidah dan syariat, serta bagian dari upaya Kemenag untuk menjangkau masyarakat di wilayah 3T.
“Semoga para Dai ini bisa berdakwah dan beradaptasi dengan nilai kearifan yang sudah ada, berkolaborasi dengan para penyuluh serta tokoh agama lainnya,” pungkasnya.
Potret Kabupaten Karo
Diperlukan sekitar 3-4 jam perjalanan dari Bandara Kualanamu Medan untuk sampai di Kabupaten Karo.
Secara administratif, Karo resmi terbentuk dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia berdasarkan UU Nomor 07 Tahun 1956 dengan ibukota di Kabanjahe.
Masyarakat Karo mempunyai salam khas yaitu mejuah-juah kita kerina yang memiliki arti sehat-sehat kita semua, baik-baik kita semua, kedamaian, kesehatan, kebaikan untuk kita semua.
Kabupaten Karo dikenal dengan toleransinya yang tinggi. Mereka hidup berdampingan dan saling membantu hingga tercipta kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Secara fisik, kerukunan itu antara lain tergambar dari keberadaan rumah ibadah yang berdiri secara berhadapan, yaitu Gereja GBKP dan masjid yang berhadapan di Perteguhen.
Selain itu, yang menjadi daya tarik Kabupaten Karo adalah wisata alam yang begitu indah. Salah satunya yaitu Air Terjun Sipiso-piso berlokasi di kawasan Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Di lokasi ini terdapat bentangan pemandangan alam, dengan guyuran air terjun yang jatuh dari atas tebing tinggi, kemudian Air Terjun Sikulikap, Bukit Gundaling, Gunung Sinabung, dan masih banyak lainnya.
An/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



