Jambi, Bimas Islam -- Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadits (STQH) XXVII Nasional tahun 2023 di Provinsi Jambi turut dimeriahkan dengan kegiatan Seminar Al-Qur'an bertema 'Melalui Seminar Al-Qur'an, Kita Tingkatkan Pemahaman serta Mengimplementasikan Nilai-nilai Al-Qur'an dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara dalam Bingkai NKRI yang Tangguh dan Bermartabat'.
Dalam seminar ini, Menteri Agama Periode 2001-2004 K.H. Said Agil Husin Al-Munawar dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar berperan sebagai pemateri.
K.H. Said Agil Husin Al-Munawar menegaskan, pesan Al-Qur'an selalu kontekstual. Meskipun Al-Qur'an diturunkan 14 abad yang lalu, pesannya tetap relevan dengan kondisi saat ini.
"Pesan Al-Qur'an berlaku pada masa turunnya, setelahnya, dan bagi generasi kita. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memahaminya," ujarnya di Kota Jambi, Selasa (31/10/2023).
Menurut Menteri Agama periode 2001-2004 itu, Al-Qur'an adalah mukjizat yang selalu relevan dengan konteksnya. "Al-Qur'an adalah mukjizat abadi, pesannya selalu aktual sesuai dengan konteksnya," tegasnya.
Seiring dengan itu, Nasaruddin Umar juga menyoroti pentingnya memahami Al-Qur'an secara kontekstual, bukan hanya tekstual. Menurutnya, pemahaman tersebut juga perlu diperkaya dengan beragam pendekatan, termasuk usul fikih dan ilmu-ilmu lainnya.
"Dalam memahami Al-Qur'an, pemahaman komprehensif dengan berbagai pendekatan diperlukan, termasuk ilmu usul fikih," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengelompokkan tipe pembaca (iqra) Al-Qur'an. Ada pembaca dengan kesadaran sensasional, yang hanya membaca tanpa lebih. Tipe kedua adalah pembaca dengan kesadaran intelektual, yang mampu memikirkan makna dalam Al-Qur'an, umumnya para sarjana.
"Ada juga tipe pembaca dengan kesadaran emosional, yang dapat menangkap makna-makna dalam Al-Qur'an, biasanya kalangan aulia. Keempat, tipe pembaca dengan kesadaran spiritual, yang mencapai pemahaman yang paling mendalam," tuturnya.
Ba/Mr



