Bukittinggi, Bimas Islam-- Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Kementerian Agama (Kemenag), Adib meminta takmir masjid, penyuluh agama, dan penyandang disabilitas mempersiapkan tiga aspek dalam menghadapi bencana. Tiga aspek tersebut yaitu aspek teologis, sosiologis, dan psikologis.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Penguatan Literasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana di Sumatra Barat, di Balai Dinas Perkebunan & Tanaman Pangan dan Hortikultura, Bukittinggi, Rabu (31/7/2024).
"Siapkan diri kita (takmir, penyuluh, dan disabilitas) untuk menghadapi bencana dengan tiga aspek, yaitu aspek teologis, sosiologis, dan psikologis. Pemahaman yang matang tentang tiga aspek tersebut akan meningkatkan ketahanan dan percepatan dalam pemulihan jika terjadi bencana," jelasnya.
Adib menjelaskan, dalam aspek teologis, musibah atau bencana harus dipahami sebagai ketentuan yang telah ditetapkan Allah Swt. Dengan mengutip QS. al-Hadid/57:22. Adib menjelaskan, bencana apa pun yang terjadi terlebih dahulu sudah tertulis di Lauh Mahfuz.
“Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah,” kutipnya.
Sementara dalam aspek psikologis, imbuh Adib, bencana merupakan sebuah ujian. Oleh karenanya, bencana sepatutnya disikapi dengan sabar. Dengan ujian tersebut, kata Adib, manusia akan sampai pada tahapan kematangan dalam psikologis.
"Dalam aspek sosiologis, ketika terjadi bencana, masyarakat harus bisa menghadapi dengan cara ta'awun (tolong-menolong) antar sesama," jelasnya.
Adib mengatakan,bencana yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh terjadinya ketidakseimbangan antara manusia dalam pemanfaatan alam. Karenanya, keseimbangan dalam menjaga alam harus terus dijaga agar dapat mengurangi risiko bencana.
Dalam membangun keseimbangan alam, kata Adib, harus dimulai dengan penguatan pemahaman dan kesadaran terhadap bencana melalui literasi kebencanaan. "Dengan meningkatkan literasi kebencanaan dan menjaga keseimbangan alam, kita akan mampu mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapinya," tambahnya.
Di akhir, Adib berharap masyarakat takmir masjid, penyuluh, dan difabel lebih siap dalam menghadapi bencana dengan pendekatan yang komprehensif, mencakup aspek teologis, sosiologis, dan psikologis, serta penguatan literasi kebencanaan sehingga ketahanan masyarakat terhadap bencana semakin kuat.
Kegiatan Penguatan Literasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana di Sumatra Barat tersebut digelar atas kolaborasi Kemenag, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Most Unesco, Maxima, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat. Kegiatan itu digelar Selasa hingga Rabu (30-31/7/2024).
Ba/Mr



