Kepala Subdirektorat Kemasjidan, Kemenag, Akmal Salim Ruhana mengatakan, program ini menawarkan jenis bantuan yang terfokus pada lima aspek utama, yaitu ramah anak dan perempuan, difabel dan lansia, lingkungan, keragaman, serta duafa dan musafir. Menurutnya, bantuan tersebut mendorong pengelola masjid untuk memenuhi sarana prasarana dari kelima aspek ramah.
Akmal memaparkan, untuk kategori masjid ramah anak dan perempuan, bantuan yang diberikan berupa penyediaan pojok bermain anak, toilet/tempat wudu anak, perpustakaan anak, ruang laktasi ibu/anak, serta perlengkapan TKA/TPA dan sarung/mukena anak.
“Meski konsep Masjid Ramah meliputi mindset, skillset, dan em>toolset, program Bantuan Masjid Ramah kali ini dikhususkan untuk meningkatkan fasilitas saja. Misalnya, penyediaan perpustakaan anak, toilet anak, ruang laktasi ibu/anak, perlengkapan sarung/mukena anak, dan sebagainya,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (27/1/2024).
Bantuan untuk masjid kategori ramah difabel dan lansia, lanjutnya, yaitu berupa pembelian kursi roda difabel, kursi lipat lansia, toilet/tempat wudu khusus, ramp/tanjakan kursi roda, Al-Qur’an Braille, dan pembuatan penanda/ guiding block.
“Mereka (difabel dan lansia) memiliki hak yang setara dalam beribadah. Bantuan ini dirancang untuk memberi kenyamanan bagi mereka,” ungkap Akmal.
Aspek ramah lingkungan juga diperhatikan melalui penyediaan pepohonan, sanitasi air, pengelolaan sampah terpilah, kran hemat air, dan glass boxuntuk pencahayaan, misalnya penyediaan akustik pengeras suara untuk terwujudnya masjid ramah lingkungan.
Sedangkan untuk ramah keragaman, imbuh Akmal, diwujudkan melalui penyediaan ruang konsultasi syariah, koleksi buku pustaka keagamaan yang beragam, pemasangan mading (majalah dinding) informasi khatib dan lain-lain, serta adanya nomor kontak untuk early warning system.
“Ini akan memberi dukungan inovasi layanan agar masjid bisa menjadi pusat literasi keagamaan,” ucapnya.
Masjid kategori ramah duafa dan musafir, lanjutnya, bantuan operasional mencakup penyediaan BMT masjid, penyediaan makanan/minuman ringan gratis, ruang P3K di masjid, layanan air minum/ refill dan tempat istirahat untuk musafir.
Terakhir, Akmal menyebut, penetapan kuota per provinsi penerima bantuan program diagendakan pada 1-3 Februari 2024, akan bersifat proporsional sesuai jumlah proposal yang masuk hingga 31 Januari.
“Kemenag akan berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag provinsi dalam menentukan calon penerima dana stimulan dari program bantuan Masjid Ramah ini,” pungkasnya.
Diketahui, Program Bantuan Operasional Rintisan Masjid Ramah telah dibuka sejak 23 hingga 31 Januari, menyediakan dana sebesar Rp15 juta untuk masjid dan Rp10 juta untuk musala. Sebanyak Rp27,6 miliar akan disalurkan untuk 1.606 masjid dan 351 musala.
Wcp/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



