Dalam kesempatan itu, Waryono mengulas peran lembaga wakaf di Indonesia dalam mengelola dana umat. Ia menegaskan pentingnya transparansi melalui audit akuntan publik untuk memelihara kepercayaan masyarakat kepada lembaga wakaf.
“Kami menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga wakaf melalui proses audit oleh akuntan publik,” ucapnya.
Waryono juga mengungkapkan, lembaga wakaf di Indonesia dapat berkontribusi terhadap isu sosial seperti pencegahan stunting dan pemberian beasiswa bagi mustahik.
“Karenanya, langkah konkret pemerintah dalam memperkuat perwakafan yaitu dengan menggulirkan program Wakaf Catin dan Wakaf Jamaah Haji, agar dana yang terkumpul dapat berkontribusi terhadap isu sosial seperti penanganan stunting,” ulasnya.
Susi Susiatin, Aktivis Gerakan Wakaf Indonesia (GWI), juga memberi ulasan terkait peningkatan literasi wakaf di kalangan generasi muda. Ia mengatakan, pihaknya giat menggelar seminar agar pengetahuan terkait wakaf dapat tersampaikan di kalangan milenial.
“Bahkan, kami memiliki Sekolah Akademi Wakaf sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi wakaf di kalangan anak muda. Kami mengingatkan anak muda bahwa wakaf zaman now bukan karena mampu, tapi karena mau,” ulasnya.
Sementara itu, Adimarwan Azwar Karim dari BSI mendorong pembangunan unit-unit produktif wakaf di masjid. "Agar dana yang terkumpul dari unit tersebut dapat dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial,” tambahnya.
Di akhir, Siti Aisah, seorang pengusaha, menegaskan bahwa berwakaf adalah investasi akhirat yang bernilai. “Kebahagiaan bukanlah tentang banyaknya tabungan di bank, tapi tentang memberi,” tandasnya.
Acara Talkshow tersebut menegaskan bahwa filantropi Islam tidak hanya bergantung pada aspek finansial semata, tetapi keinginan tulus untuk berbagi demi kemajuan peradaban.
Wcp/Mr
*Fotografer: Budi



