Dengan outfit khasnya, termasuk cincin tengkorak, batu akik, dan dress code punk, Doy hadir dalam Talkshow Jalan Pulang yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dalam rangkaian perayaan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-78.
Tahap awal kehidupannya, Doy terpukul oleh kekerasan yang disaksikan pada masa kecil ketika ayahnya melakukan tindakan kekerasan terhadap ibunya. Hal ini memicu perubahan besar dalam dirinya, mengubahnya menjadi seseorang yang melawan arus.
“Kekerasan yang dilakukan ayah, itu terekam di memori otak saya. Akhirnya, saya punya rasa dendam untuk membalas perlakuannya,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (6/1/2024).
Seiring waktu, Doy terperangkap dalam gelapnya kehidupan. Ia mulai melukis tubuhnya dengan tato pada tahun 2015 dan terlibat sejumlah aktivitas kriminal.
Namun, melalui penyuluhan agama di Pondok Tasawuf, Doy berhasil mengendalikan emosinya dan membangun hubungan yang baik dengan ayahnya sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.
“Pondok tasawuf telah menjadi rumah bagi saya sejak akhir 2018 hingga sekarang. Saya mendapatkan hidayah di pondok itu,” tuturnya.
Menariknya, meski sempat menghentikan pendidikan saat kelas dua SMA, saat ini Doy fokus pada pendidikan di Universitas Pamulang pada semester 6. Dukungan dan bantuan biaya studi dari ustaz Halim Ambiya memberinya kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan mengambil jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas tersebut.
Doy menyampaikan, ustaz Halim Ambiya telah mendampingi para anak punk sejak tahun 2015, memberi arahan agar mereka dapat mandiri dalam berbagai bidang, termasuk berwirausaha di bidang bengkel, sablon, dan menjadi barista.
Dalam proses perubahan hidupnya, Doy menyadari bahwa ketenangan yang ia cari tidak dapat ditemukan melalui penggunaan obat terlarang seperti yang ia duga sebelumnya, tetapi ia menemukan dalam kebenaran agama.
“Dulu saya berpikir ketenangan datang dari obat terlarang, ternyata ketenangan itu ada pada agama,” tandasnya.
Wcp/Mr
*Fotografer: Budi
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



