“Jejak-jejak toleransi antaragama di berbagai wilayah, terutama di seluruh Jawa menandakan bahwa Indonesia baik-baik saja. Karena itu, saya selama ini telah mendorong agar teman-teman di berbagai kampung di seluruh Indonesia untuk sharing terkait jejak toleransi di daerahnya masing-masing,” tuturnya.
Ia mengatakan, kehidupan bertoleransi yang ditunjukkan masyarakat Indonesia perlu diabadikan ke media sosial, sehingga dapat menjadi edukasi.
"Saya sendiri aktivis toleransi yang cukup lama menggali hal itu di Indonesia, tetapi masih banyak hal baru yang saya temui. Misalnya, ada kantor Nahdlatul Ulama yang berseberangan dengan masjid Muhammadiyah, ditambah disebelahnya ada Tionghoa Non Muslim yang menjual gorengan babi, dan mereka rukun saja selama ini,” ungkapnya.
Habib Ja'far juga mengungkapkan, mayoritas umat Muslim sebenarnya sudah bersikap toleran. Namun menurutnya, yang menjadi persoalan adalah intoleransi yang berisik di media sosial, sehingga tercermin Indonesia terancam kelompok intoleran.
Dalam perjalanannya di program OTW yang disiarkan oleh iNews bekerja sama dengan Ditjen Bimas Islam, Habib Ja'far juga banyak diundang di kegiatan lintas agama. Ia bercerita bagaimana ia diundang untuk berceramah dengan latar Candi Borobudur, kemudian ia bercanda kalau dakwahnya sudah tersesat ke tempat ibadah umat sebelah.
Di akhir wawancara, Habib Ja'far mengapresiasi program OTW sebagai inisiatif untuk mengisi konten media sosial dengan nilai toleransi. Konten ini, menurutnya, dapat menjadi narasi tandingan terhadap banyaknya konten intoleransi di media sosial.
“Dan OTW sudah mengawali bagaimana membuat toleransi menjadi konten edukasi di media sosial. Harapannya, bukan hanya ditonton, tapi menjadi inspirasi untuk kita jadikan konten serupa di media sosial. Oleh karena itu, saya mendorong kita lebih banyak menyuarakan toleransi,” pungkas Habib Ja'far.
Fn/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



