Depok, Bimas Islam --- Program Layanan keagamaan terkait Pengukuran Arah Kiblat yang dilakukan Kementerian Agama melalui Subdit Hisab Rukyat dan Syariah, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam memiliki posisi penting dan semakin tinggi dirasakan manfaatnya di tengah masyarakat.
Pada hari sabtu tanggal 8 Februari 2020 lalu, bertempat di Kampus Universitas Internasional Indonesia (UIII) Kota Depok Jawa Barat, tim ahli dari Kantor Pusat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama yang dipimpin langsung oleh Kasi Hisab Rukyat Ismail Fahmi tampil di antara para pekerja proyek Pembangunan guna membantu pengukuran arah kiblat Masjid yang akan dibangun.
Proses pembangunan Masjid Kampus UIII yang masuk dalam paket tahap ke I proyek pekerjaan fisik ini, menurut sumber media tempo.co (13/03/2019) menghabiskan anggaran Rp. 87.036.907.000 yang bersumber langsung dari DIPA Kementerian Agama.
Adapun kedudukan penting pengukuran arah kiblat, menurut Ismail guna menghindari kekeliruan peletakan tata ruang yang berfungsi secara syarí bagi pelaksanaan ibadah shalat. Pakar Ilmu Falak lulusan Pesantren Tebuireng Jombang yang didampingi staf pelaksana Zam-zam Kusumaatmaja ini pun menambahkan bahwa proses layanan ini dilakukan Kementerian Agama secara gratis dan hanya berdasarkan pengajuan permohonan pengukuran kepada pihaknya.
“Kami mewakili tim hisab rukyat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama sangat berharap kepada masyarakat, khususnya umat Islam yang ingin meminta layanan ini bisa langsung mengajukannya ke Kantor kami atau ke Kementerian Agama Kabupaten atau Kota setempat khususnya sebelum pebangunan, karena tak sedikit dari layanan yang memiliki basis keilmuan pada ilmu falak ini justru terjadi ketika Masjid atau Mushola telah lama dibangun dan dipakai untuk kemudian diverifikasi kembali ketepatan letak dan tata ruangnya”, ungkap Ismail.
Dalam kesempatan yang sama Ismail turut menambahkan, “Oh ya, jangan lupa layanan pengukuran arah kiblat Kementerian Agama ini gratis loh ya”, ujarnya.
Dengan membawa perlengkapan memadai seperti theodolite, kompas, GPS, dan beberapa alat lainnya ini, Ismail dan Zam-zam secara sigap memotret kondisi lapangan, untuk selanjutnya dilakukan proses pengukuran.
Ismail menyampaikan, bahwa pengukuran dilakukan menggunakan alat Theodolit digital dengan mengkalibrasi arah berdasarkan acuan azimut matahari, agar didapatkan hasil arah kiblat yang tepat, yang nantinya jika dichek dengan peristiwa Matahari tepat di atas Kabah, atau Rashdul Kiblat/Istiwa Azham benar-benar pas.
Tak kurang dari beberapa jam, proses pengukuran arah kiblat Masjid Kampus kebanggaan masyarakat Indonesia ini pun selesai, dan sembari berpesan kepada pimpinan pekerja proyek Ismail berpesan agar penanda dan ketentuan tata letak arah kiblat yang telah diukur agar diberi ruang dan dijaga secara baik agar tidak terganggu atau berubah posisinya dikarenakan sibuknya aktifitas pekerjaan fisik pembangunan kampus.
Sumber: Ismail Fahmi
Penulis: Syafaat
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



