Surakarta, Bimas Islam --- Keistiqomahan Ustaz Mohammad Zainal Abidin dalam mengisi kajian online Kitab at-Targib wat-Tarhib (pukul 16.00-17.00) 25 episode dan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim (pukul 10.00-11.00)19 episode, setidaknya hingga paruh ramadhan ini sudah 44 episode telah dikerjakan.Semua video telah diunggah di media sosial Youtube sejak Ahad sebelum ramadhan.
Dengan memanfaatkan Work For Home serta dorongan dari rekan-rekannya, termasuk ormas keagamaan dan ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memungkinkan bapak dari empat anak ini ikut menceburkan diri berdakwah melalui Youtube.
“Sebetulnya saya alergi dan tidak terbiasa dengan ngaji online, apalagi menjadi youtuber seperti ustaz-ustaz di medsos lainnya”, ujar Penyuluh Non PNS yang murah senyum itu mengawali wawancaranya, Rabu (06/05) kemarin.
Menurut pengakuannya, ide tersebut muncul setelah pengajian-pengajian ditutup, para santri diliburkan dan dipulangkan ke kampung halamannya akibat adanya pandemi Virus Corona di tanah air, termasuk Surakarta. “Siswa-siswa sudah tidak sekolah lagi. Para orang tua kewalahan menangani anaknya dan jamaah banyak yang mengeluhkan kapan pengajian dimulai lagi. Apalagi era millenial ini banyak pengaruh terhadap usia anak-anak muda di dunia medsos”, imbuhnya.
Karena ini merupakan dunia baru, tentu saja ada hambatan. Misalnya, tim kurang disiplin, keluar dari keputusan yang telah disepakati, perangkat yang belum memadai, belum adanya tim cyber yang terukur dan terkoordinir dengan baik sehingga informasi belum bisa meluas dan menjangkau kesemua lapisan masyarakat.
Namun yang melegakan, kata suami dari Fikroh Nabila ini, selama tayang beberapa episode, belum ada yang komplain terhadap isi kajian dari netizen, kecuali hanya masalah teknis dan beberapa pertanyaan seputar kajian.
Oleh karena itu, Ia bersama timnya berusaha memperbaiki kekurangan tersebut seperti gambar,background hingga audionya.”Beli mik kecil yang dijepitkan dibaju itu saja seharga dua juta. Kayak punya artis-artis itu, lho”, ungkap pria kelahiran Tegal, 18 Maret 1977.
Alumnus fakultas dakwah IAIN Surakarta ini mengaku kegiatan ngaji tersebut merupakan pesan dan amanah dari guru-gurunya diantaranya Mbah Manab, Ponpes Lirboyo, Kediri. “Ya besuk kalau pulang dari pesantren jangan sampai tidak ngedep dampar”,ujar Zainal menirukan gurunya.
Dengan adanya kajian online ini Ia berharap kegiatan dakwah tidak berhenti walau ditengah pandemi. “Pendakwah harus tetap semangat, cerdas dalam melaksanakan dakwah penerus risalah nabi dan perjuangan para ulama”, ujar anak sulung H. M. Abbas Yaman dan Hj. Nuraenah.
“Kami akan terus belajar seperti para pendakwah medsos lainnya.Setidaknya dengan dakwah online ini dakwah kami terdokumentasi, terekam dan tersimpan sehingga suatu saat bisa dibuka kembali memori itu dan bisa dirasakan oleh siapa saja. Jangan lupa subcribe dan klik tombol loncengnya ya”, pungkasnya.
(jateng.kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



