“Hari ini kita selesaikan lelucon politik terkait isu agama. Agama tidak boleh jadi lelucon politik,” ucapnya.
Wamenag menyebut, Indonesia sebagai bangsa majemuk dihadapkan pada sejumlah tantangan di tahun politik, terutama terkait kehidupan beragama. Menurutnya, isu agama tidak perlu dikaitkan dengan pilihan politik. Lebih dari itu, Wamenag berpesan untuk mengedepankan persaudaraan.
“Karenanya, menjadikan agama sebagai lelucon politik itu menandakan matinya hati nurani,” ungkapnya.
Selain itu, Wamenag juga mendorong majelis taklim dan penyuluh agama untuk menebarkan pesan-pesan moderasi di tengah masyarakat. Majelis taklim dan penyuluh agama dinilai memiliki peran sentral untuk memberi pencerahan di tahun politik.
“Kementerian Agama menjadikan kehidupan moderat bagian dari program prioritasnya yang disebut sebagai Moderasi Beragama yang berkontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Penyuluh agama dan majelis taklim perlu menjadi duta Moderasi Beragama,” ulasnya.
Moderasi Beragama: Kearifan Lokal dan Tantangan Toleransi
Wamenag menjelaskan, Moderasi Beragama merupakan ajaran turun-temurun yang diwariskan para leluhur bangsa. Di kawasan Betawi, Moderasi Beragama menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal.
“Moderasi Beragama hakikatnya merupakan warisan leluhur kita. Di Betawi, contohnya, sudah mengajarkan Moderasi Beragama,” ujar Wamenag.
Ia mencontohkan, penggunaan kata ‘sembahyang’ merupakan sebutan untuk salat yang menunjukkan penghormatan terhadap kearifan lokal, walaupun memiliki makna yang berbeda bagi pemeluk agama di luar Islam.
“Saya lahir di Mampang, Jakarta Selatan. Orang tua saya tidak pernah menyuruh salat, karena orang Betawi tidak menggunakan kata salat, tapi menggunakan kata sembahyang,” tuturnya.
Untuk itu, Wamenag berharap, peran penyuluh agama dapat mendeteksi dan mengatasi ancaman yang dapat merusak nilai-nilai toleransi di masyarakat.
“Melalui semangat Pancasila, Indonesia tetap tegak sebagai negara yang berkomitmen pada nilai-nilai keberagaman dan toleransi. Harapannya, dengan kesadaran dan kerja sama semua pihak, Indonesia akan tetap menjadi negeri yang damai menuju visi Indonesia Emas 2045,” tandasnya.
Wcp/Mr
*Foto: Shandry FN
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



