Bukittinggi, Bimas Islam — Selain dikenal sebagai tujuan utama wisata di pulau Sumatera, Kota Bukittinggi juga dikenal sebagai kota yang religius. Hampir 98 persen penduduk kota yang pernah menjadi ibu kota NKRI ini beragama Islam. Kehidupan keagamaan di kota yang berlokasi di tepi Ngarai Sianok tersebut juga berjalan rukun dan harmonis.
Meski begitu, bukan berarti kota bersemboyan “Saayun Salangkah” itu terlepas dari fenomena aliran bermasalah. “Sempat ada aliran yang bermasalah, itu pun sudah lama sekitar tahun 90an, dan mereka bubar dengan sendirinya,” demikian disampaikan Gazali, Kepala Seksi Bimas Islam, Kantor Kementerian Agama, Kota Bukittinggi, saat berbincang dengan bimasislam, Kamis (14/02).
Gazali, yang saat itu ditemani JFU Bimas Islam Zulfabriandi, mengaku pemahaman masyarakat Bukittinggi terhadap agama cukup tinggi. “Orang Bukittiniggi ini memang kritis, jika ada aliran yang menurut mereka baru, mereka akan lihat dulu buya (guru)-nya, latar belakang pendidikannya, dan sebagainya, jika tidak jelas maka warga akan menjauh” ujar Zulfabriandi.
Itu sebabnya, ia melanjutkan, aliran keagamaan yang bermasalah yang masuk ke Bukittinggi akan bubar dengan sendirinya, “Digangu oleh masyarakat tidak, tetapi akan bubar dengan sendirinya, tidak akan dapat pengikut. Istilahnya, datang 10 pulang pun sepuluh,” katanya.
Hal tersebut, diakuinya cukup membantu tugas dan fungsi bimbingan agama yang dilakukannya. “Warga Bukittinggi memiliki pakem dalam beragama. Menghargai perbedaan, tidak mengganggu. Itu sebabnya secara keagamaan Bukittinggi aman dan tidak ada gesekan,” tambahnya.
Pihaknya, juga selalu berupaya memberikan penyuluhan keagamaan kepada masyarakat melalui berbagai media. “Penyuluhan terkait kehidupan keagamaan terus disampaikan baik melalui majlis taklim, juga memaksimalkan peranan penyuluh agama, para kepala KUA, dan para guru untuk membimbing kehidupan keagamaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Bukittinggi merupakan kota dengan tingkat perekonomian terbesar kedua di Sumatera Barat. Berlokasi di tepian lokasi wisata Ngarai Sianok dan dikelilingi Gunung Singgalang dan Marapi menjadikan kota yang berjarak 90 KM di utara kota Padang ini sebagai andalan wisata utama di ranah minang. Kantor Kemenag Bukittinggi sendiri membawahi tiga KUA, yaitu Mandiangin Koto Selayan, Guguk Panjang, Aur Birugo Tigo Baleh. Kecuali Aur Birugo Tigo Baleh, dua KUA lainnya sudah dibangun dengan pembiayaan melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Ska/mvl/bimasislam



